Risiko Audit (Audit Risk)

 

 

Apa Itu Risiko Audit (Audit Risk)?

Dalam hal ini, yang dimaksud dengan audit risk adalah risiko yang mungkin harus ditanggung oleh seorang auditor akibat pemberian opini yang tidak tepat atas laporan keuangan auditee.

 

Ada 2 macam risiko:

  • Risiko Audit (audit risk) – Risiko kemungkinan adanya ‘salah-saji yang bersifat material’ yang luput (tidak tertangkap) saat proses audit.

 

  • Risiko Bisnis (business risk) – Risiko yang mungkin harus ditanggung oleh kantor akuntan publik dan auditor itu—berupa: tuntutan hukum, kritik, dan menurunnya kredibilitas (nama baik)—akibat proses audit yang dijalankan oleh auditor. (Brumfield et al., 1983).

Khusus di wilayah risiko audit (audit risk), auditor (setelah melakukan audit) berhadapan dengan 2 pilihan utama, antara (a) menolak; atau (b) menerima asersi manajemen (transaksi, saldo akun dan laporan keunagn. Baik menolak atau menerima, sama-sama berisiko bagi auditor:

  • Kemungkinan risiko yang timbul akibat menerima asersi disebut “risk-a” juga disibut “risk type-I”; dan
  • Kemungkinan risiko yang timbul akibat menolak asersi disebut “risk-b” juga disebut “risk-type II”

Pembedaan kedua risiko ini diberlakukan di semua tingkatan asersi, baik itu pada tingkatan saldo akun maupun laporan keuangan secara keseluruhan.

Perbedaan risk-a dan b ini banyak diulas dalam artikelnya Elliott & Rogers (1972)—yang kelihatannya berasal dari penerapan pendekatan uji hipotesa statistik untuk audit yang mengijinkan auditor untuk mengukur dan mengevaluasi kedua jenis risiko tersebut. Khusus risk-b (risiko menolak asersi), jika dikaitkan dengan dimensi lain, yaitu penggunaan metode sampling statistik dalam uji audit, risiko audit juga bisa dihubungkan dengan 2 type risiko yaitu: sampling-risk; dan nonsampling-riskRobert (1978) mendefinisikan:

Sampling-risk adalah:

the portion of audit risk of not detecting a material error that exists because the auditor examined a sample of the account balances or transactions instead of every one.” (terjemahan bebas: porsi risiko audit berupa kesalahan bersifat material yang tidak terdeteksi yang diakibatkan oleh karena auditor hanya mempelajari sample saldo akun, tidak satu-per-satu)

dan nonsampling-risk adalah:

the portion of audit risk of not detecting a material error that exists because of inherent limitations of the procedures used, the timing of the procedures, the system being examined, and the skill and care of the auditor.” (terjemahan bebas: porsi risiko audit berupa kesalahan bersifat material yang tidak terdeteksi yang diakibatkan oleh karena keterbatasan inherent prosedur yang digunakan, alokasi waktu penggunaan prosedur, sistim yang dipelajari, kehati-hatian dan skill auditor itu sendiri)

Jika sampling-risk dan nonsampling-risk disebut sebagai “c-risk, selanjutnya Robert memperkenalkan satu konsep lainnya yang disebut dengan “d-risk” yang didefiniskan sebagai: “the sampling risk of unwarranted reliance in statistical compliance tests.” (terjemahan bebas: risiko sampling yang berasal dari uji kepatuhan statistik yang kehandalannya tidak bisa dijamin.)

Terakhir, ada 3 risiko audit (Arens & Loebbecke, 1994; Senetti, 1990), yaitu:

  • Desired audit risk – Tingkat risiko audit yang bisa diterima dan telah direncanakan sebelumnya—biasanya di tentukan sebelum substantive test dilaksanakan.
  • Estimated audit risk – Risiko audit yang diperkirakan oleh auditor.
  • Achieved audit risk – Tingkat risiko audit sesungguhnya yang tidak diketahui (tidak disadari) oleh auditor.

Pendekatan-Pendekatan Yang Digunakan Dalam Mengukur Risiko Audit

Ada 2 macam pendekatan yang berkembang sehubungan dengan pengkuruan risiko Audit (Cushing & Loebbecke, 1983), yaitu:

  • Pendekatan Analisa Risiko Audit (Audit Risk Analysis Approach); dan
  • Pendekatan Model Keputusan Audit (Audit Decision Modeling Approach)

Tujuan utama dari penggunaan analisa risiko audit adalah membantu auditor untuk memperoleh rasa percaya diri (keyakinan) bahwa laporan keuangan auditee tidak mengandung salah-saji yang bersifat material. Pendekatan ini samasekali tidak memperhitungkan adanya risiko bisnis yang mungkin dihadapi oleh auditor dan kantor akuntan publik sehubungan dengan opini yang mereka keluarkan. Sehingga, model ini juga tidak banyak mempertimbangan kondisi ekonomi makro dan faktor-faktor di luar proses audit itu sendiri.

Pendekatan model keputusan audit, oleh para peneliti dianggap lebih komprehensif jika dibandingkan dengan model analisa risiko audit—mengikut sertakan biaya audit disamping risiko audit. Model ini bisa menjadi semacam alat penunjang dalam menjalankan proses audit yang hemat (cost-effective)—tentunya dalam kisaran yang masih aman sehubungan dengan kemungkinan adanya risiko salah-saji yang bersifat material.