Beberapa kekeliruan dalam menjalankan Shalat Jum’at.

???????????????????????????????Dalam melaksanakan Shalat Jum’at sering kita mendengar orang berkata bahwa ini tidak boleh itu tidak boleh, seharusnya begini dan seharusnya begitu.

Karena keterbatasan pengetahuan saya tentang adab Shalat Jum’at, membuat saya merasa perlu melakukan penelusuran didunia maya dengan bantuan Mbah Google, agar dapat menjawab ketidak tahuan saya akan Adab Shalat Jum’at dan dapat menuntun saya agar tidak melakukan kekeliruan dalam menjalankan ibadah dimaksud.

Berikut beberapa cuplikan yang berhasil saya dapatkan melalui bantuan Mbah Google, semoga bermanfaat bagi kita semua, Amin.

  • Ketika seorang khotib naik ke atas mimbar, ia dengan sengaja menengok ke kanan dan ke kiri, terutama ketika ia mengatakan: “Saya berpesan kepada jama’ah sekalian” atau ketika mengucapkan Shalawat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Yang demikian tidak ada asal ajarannya sedikitpun dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, justru yang Sunnah adalah hendaknya khotib itu menghadap ke arah jama’ah sejak awal khutbah sampai dengan akhir khutbah. Sementara di kita katanya ada unsur siasat, unsur seni dalam beretorika, menebarkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Kalau itu dijadikan kebiasaan atau mungkin menjadi afdhol bagi suatu khutbah, maka yang demikian tidak boleh, karena tidak ada landasannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang demikian juga dinyatakan oleh para ‘ulama yang sezaman dengan Imam As Suyuuthi. Menurut Imam Syafi’iy, yang diambil dari Kitab Al ‘Umm jilid I oleh Imam As Suyuuthi, bahwa hendaknya seorang khotib itu menghadapkan wajahnya kepada jama’ah yang ada di depannya, tidak perlu menolehkan wajahnya ke kanan atau kekiri.
  • Mereka (para khotib) dengan sengaja mengangkat (mengeraskan) suara mereka ketika mengucapkan Shalawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم, dimana yang demikian itu menurut Imam Imam As Suyuuthi adalah bagian dari kejahilan (kebodohan), karena kata beliau ucapan shalawat atas Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan doa, mendo’akan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan doa-doa yang dipanjatkan itu seluruhnya Sunnahnya dengan Sirr (berbisik), bukan dengan Jahr (dikeraskan). Bahkan seluruh doa adalah dengan Sirr, tidak perlu dengan suara keras. Kalaupun ada doa yang harus disuarakan dengan suara keras adalah untuk keperluan maslahat, seperti doa Qunut shalat Witir, atau Qunut An Nazilah. Bahkan kalau khotib itu berkhutbah dan selalu berdoa di akhir khutbah kedua, yang merupakan rangkaian seluruh khutbah, maka yang demikian adalah sesuatu yang keliru. Karena yang demikian tidak disunnahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
  • Menganggap sebagai suatu ibadah untuk menangguhkan shafar (bepergian) pada hari Jumat. Misalnya seseorang mempunyai keperluan yang harus dilaksanakan hari Jum’at. Tetapi keperluan itu ditangguhkan karena hari Jum’at. Keyakinan menangguhkan perjalanan pada hari Jum’at itu dianggapnya sebagai bagian dari agama, maka keyakinan yang demikian itu adalah salah. Kalau memang kebetulan ada keperluan pada hari Jum’at (misalnya bepergian), lakukan saja, karena tidak ada ajaran yang mengatakan bahwa Jum’at menghalangi perjalanan atau keperluan lain. Berbeda lagi bila seseorang berkilah supaya tidak usah shalat Jum’at, lalu dengan sengaja mengadakan perjalanan hari Jum’at. Yang demikian itu juga tidak benar.
  • Menjadikan hari Jum’at itu libur untuk meniadakan kegiatan apapun yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi orang lain. Yang demikian, juga tidak ada sunnahnya. Yang dimaksud libur adalah libur kaum muslimin untuk mengkhususkan bahwa hari Jum’at adalah hari ‘Ied, yaitu mempersiapkan dirinya untuk bersih-bersih, potong kuku, sunnah fitrah, mandi, pergi ke masjid lebih awal, memperhatikan khutbah Jum’at, dan seterusnya, maka yang demikian adalah boleh. Tetapi kalau lalu tidak mau kerja atau melakukan kegiatan apapun karena hari Jum’at, maka itu adalah keliru.
  • Termasuk kekeliruan dalam khutbah adalah memperpanjang khutbah dan mempersingkat shalat dengan bacaan surat-surat pendek. Justru Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم khutbah itu pendek, singkat, shalatnya yang panjang, yaitu dengan bacaan surat-surat yang panjang. Karena di masyarakat kita ini, orang yang berkhutbah seringkali adalah orang-orang yang bukan Ahlul Syar’i ‘Ilmi, melainkan khotibya adalah orang pemikir, atau orang pakar / ahli di bidang tertentu (tetapi sebenarnya dia tidak ahli dalam bidang dien), para doktor, para akademisi, sehingga khutbahnya bukan ilmu syar’i; melainkan analisa, berita, prediksi, dll. Itu termasuk keliru. Hendaknya orang yang melakukan khutbah adalah orang Ahlul’Ilmi, tidak sekedar bisa berkhutbah. Khotib adalah Imaam, ia adalah hafidz Al Qur’an, dan cara-cara berkhutbah pun faham. Sementara di negeri kita ini, banyak khotib yang tema khutbahnya seluruhnya adalah mengikuti keadaan yang sedang trendy yang ada dalam masyarakat. Yang demikian boleh, tetapi tidak selamanya. Karena khutbah itu bisa berupa ta’lim singkat, dalam waktu singkat kaum muslimin bisa mengetahui tentang ajaran Islam.
  • Kekeliruan lain adalah khotib selalu memuji penguasa, para pejabat atau pejabat atasannya. Mendoakan dan menyebut kebaikan-kebaikan mereka dan sebagainya. Yang demikian adalah termasuk salah dan keliru. Kalau mendoakan secara umum (bukan secara individual), maka itu boleh.
  • Ada beberapa perkara yang termasuk kesalahan dalam shalat Jum’at, yaitu adanya dzikir-dzikir tertentu. Mereka karena “kreatifnya” mengarang atau melazimkan dzikir-dzikir atau do’a-do’a khusus berkaitan dengan shalat Jum’at.

Oleh karena itu para ‘ulama seperti Asy Syaikh Shoolih bin Fauzaan Ali Fauzaan mengatakan : “Shalat Jum’at itu tidak memiliki dzikir-dzikir khusus. Apa bila orang selesai melakukan shalat Jum’at, lakukanlah dzikir-dzikir sebagaimana selesai shalat fardhu biasa”.

Jadi kalau dia katakan tidak ada, berarti itu karena tidak ada dalilnya. Bagi orang yang karena terburu-buru ada keperluan yang tidak bisa ditinggal, maka selesai dzikir langsung pergi, maka itu tidak mengapa. Sebaliknya ketika selesai dzikir lalu berdoa panjang, karena ada permohonan kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka yang demikian pun boleh.

Tetapi seandainya, ia melazimkannya, seolah-olah selesai shalat Jum’at itu harus ada doa tertentu, seperti banyak dilakukan di masjid-masjid, apabila selesai shalat Jum’at si imaam langsung menghadap ke ma’mum dan memimpin jama’ahnya untuk bersama-sama berdoa, bahkan ada do’a yang panjang dan ada do’a yang pendek secara koor bersama-sama. Ia tidak tahu, bahwa yang demikian itu sesungguhnya menjadi Bid’ah. Bukan do’anya yang dilarang, tetapi CARA BERDO’A selesai sholat Jum’at dengan melazimkan seperti itu lah yang tergolong Bid’ah, karena tidak ada dalilnya / contohnya dari Rosuul صلى الله عليه وسلم.
Yang benar, sesuai contoh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ketika selesai shalat Jum’at, do’anya masig-masing, tidak dengan dipimpin. Dan tidak boleh dibuat seragam, karena tidak ada penyeragaman dalam doa itu. Yang penting, ketika berdoa adalah dengan adab berdoa, misalnya didahului istighfar, dengan syahadat, memuji kepada Allooh سبحانه وتعالى, dan adab berdo’a lainnya.

  • Ada lagi hadits mengatakan: “Bahwa mengadakan shalat Jum’at itu wajib pada setiap desa / kampung, walaupun dikampung itu hanya ada empat orang.”
    Imam As Suyuuthi mengomentari bahwa hadits tersebut adalah dho’iif (lemah) dan terputus sanadnya. Dan itu tidak boleh kita yakini.
    Yang benar adalah shalat Jum’at adalah wajib bagi orang laki-laki, ia mukim, tidak melakukan shafar, ia tidak berhalangan ataupun tidak sakit dan sebagainya. Kalau ada halangan tertentu, maka ia tidak diwajibkan shalat Jum’at, termasuk bila bertepatan dengan hari raya ‘Iedul Fitri atau ‘Iedul Adha (yang jatuhnya tepat pada hari Jum’at).
    Jadi, bila hari raya ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha jatuh pada hari Jum’at, maka karena ia sudah shalat ‘Ied pada pagi harinya, maka shalat Jum’at-nya hukumnya (secara syar’ie) adalah menjadi tidak wajib. Boleh tidak shalat Jum’at, tetapi melaksanakan shalat Dhuhur.
    Halangan untuk shalat Jum’at (yang disebabkan alam) adalah: angin badai, hujan lebat sekali, yang tidak memungkinkan orang menembus halangan itu.
  • Pertanyaan:
    Apakah ada shalat sunnah Qabliyatal Jum’at ?
    Jawaban:
    Shalat sunnat Qabliyatal Juma’t itu tidak ada. Dipastikan bahwa shalat sunnah Qabliyatal Jum’at tidak ada. Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak pernah mencontohkannya. Maka hendaknya dipastikan oleh para penyelenggara shalat Jum’at untuk tidak memberi kesempatan kepada orang untuk melakukan shalat sunnat Qabliayatal Jum’at.
    Sedangkan shalat sunnat Ba’diyatal Jum’at itu ada. Bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkan dengan dua cara.
    Cara pertama, jika orang ingin melaksanakan shalat sunnat Ba’diyatal Jum’at itu di masjid, setelah dzikir dan berdoa terlebih dahulu, lalu bangkit untuk melakukan shalat sunnat Ba’diyatal Jum’at sebanyak 4 (empat) raka’at, yaitu dua raka’at salam dan shalat lagi dua raka’at salam.
    Cara kedua, bagi orang yang tidak melakukan shalat Ba’diyatal Jum’at di masjid, maka ia boleh melakukannya di rumah (segera setelah masuk rumahnya) dengan shalat dua raka’at.
  • Pertanyaan:
    Shalat sunnat apakah yang boleh dilakukan selain shalat Tahiyatul masjid sebelum khatib naik Mimbar?
    Jawaban:
    Tidak ada. Selain shalat sunnat Tahiyatul Masjid tidak ada lain lagi. Yang boleh, silakan anda sambil menunggu khatib naik mimbar itu maka anda berdzikir, berdo’a atau membaca Al Qur’an. Mungkin ketika itu diedarkan buletin boleh dibaca, tetapi buletin itu tidak boleh dibaca ketika khatib sudah naik ke mimbar.
    Bahkan ada hadits, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
    وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
    Artinya:
    “Bila khotib sudah naik ke mimbar, maka siapa yang memegang kerikil saja ia sudah termasuk orang yang laghwun (dilarang)” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 1052)
  • Bagaimana dengan menggeser kotak amal yang sering diedarkan ketika shalat Jum’at? Dalam hal ini, perlu ada kebijaksanaan dari pengurus masjid, ketika jama’ah masjid sudah masuk masjid dan akan mengedarkan kotak infaq, maka hendaknya itu dilakukan beberapa menit sebelum khotib naik mimbar, sebelum dimulai khutbah. Misalnya diberikan alternatif setiap shaf satu kotak. Sehingga cepat selesai beredar dan tidak ada lagi kotak berjalan ketika jama’ah mendengarkan khutbah. Demikian itu, sesuai dengan hadits tersebut diatas, agar supaya tidak mengganggu kekhusyu’an orang yang shalat Jum’at.
  • Pertanyaan:
    Bagaimana dengan shalat sunnat Intidzoor?
    Jawaban:
    Shalat sunnat Intidzar adalah sholat sunnat menunggu. Dari maknanya, shalat Intidzar bukanlah dimaksudkan untuk menunggu khotib naik mimbar ketika shalat Jum’at. Intidzar adalah nama shalat sunnat yang disabdakan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Antara dua adzan ada shalat”.
    (Maksudnya antara adzan dan iqamat ada shalat). Orang boleh melakukan shalat sunnat antara waktu itu, yaitu yang disebut shalat Intidzar.
  • Pertanyaan:
    Apa saja yang membatalkan shalat Jum’at, atau yang membatalkan khutbah?
    Jawaban:
    Bagi khotib:
    Janganlah khotib meninggalkan perkara-perkara penting dalam khutbahnya. Misalnya, seharusnya melakukan peringatan-peringatan kepada kaum muslimin, tetapi ia bahkan tidak melakukannya. Khotib tidak melakukan khutbah sebagaimana mestinya, seharusnya dalam khutbah ada Shalawat atas Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ada syahadat, ada perintah, nasihat, do’a, semua itu harus ada dalam khutbah. Demikian pula ada dalil yang shohiih, penjelasan yang jelas, dan seterusnya. Kalau itu tidak ada, bisa menyebabkan fatal dalam berkhutbah. Bacaan ayat atau lafal Hadits haruslah benar. Kalau belum benar, maka ia harus belajar dulu.
    Bagi jamaah:
    Lakukanlah beberapa perkara agar tidak lalai ketika shalat Jum’ah dan mendengar khutbah misalnya: tidak membaca koran, buletin atau main-main handphone dan sebagainya, itu semua bisa membatalkan shalat Jum’at, bila itu dilakukan ketika khotib sudah naik mimbar. Termasuk didalamnya adalah tidur ketika khutbah berlangsung. Kalau sengaja dikondisikan sehingga tertidur, maka itu bisa menyebabkan batal. Tetapi kalau sedang dalam posisi duduk tegak lalu mengantuk, tertidur sebentar, maka itu tidak membatalkan shalat Jum’at-nya.

tidur-saat-khutbahDengan seizin penulisnya, saya cuplik beberapa bagian dari artikel ini pada blog saya, untuk melihat sumber aslinya silahkan kunjungi link dibawah ini:

Sumber: https://ustadzrofii.wordpress.com/2010/09/14/kekeliruan-dalam-sholat-jumat/#comment-6899

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>