Input-Process-Output and Outcomes.

Apa yang terjadi jika pagi hari ketika kita tiba ditempat kerja, kita melihat kondisi gedung kantor kita seperti pada gambar dibawah ini:

20150930_08383420151001_083705Dan apapula yang kita pikirkan jika ketika kita tiba dilingkungan kerja kita melihat kondisi halaman kantor nampak seperti gambar dibawah ini:

20150930_084109Apanya yang aneh….?????

Tentunya kondisi seperti ini sudah selayaknya terjadi karena ada personil yang bertugas mengerjakannya, begitulah pola pikir kita, lalu kita meneruskan aktivitas keseharian kita ditempat kerja dan merasa tidak ada yg istimewa dengan hal itu, toh semua itu disebabkan ada yang dibayar untuk menghasilkan hal seperti itu, seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:

20151001_083610Dan ini:

20150930_083734Begitu pula dengan yang ini:

20150921_095121

Serta yang satu ini:

20150921_094457Tetapi apa yang terjadi jika ketika kita datang pada pagi hari dan kita menemukan kondisi yang sebaliknya………????????

Lantai gedung kotor……………!!!!!!!!!!
Halaman bertaburan sampah dan daun yang rontok………..!!!!!!!!!!

Pasti yang terpikir dibenak kita….lho koq mereka tidak melaksanakan pekerjaannya…!!!
Dan pasti hari itu kita memulai kegiatan dengan perasaan masgul……..!!!!!

Apalagi jika pada saat kita sampai dimeja kerja dan kita menemukan meja yg kotor dan gelas masih berisi sisa minuman kemarin…………ditingkahi pula dengan pekerjaan yang menuntut penyelesaian seketika….lengkap sudah penderitaan, mungkin akan terbersit dibenak kita “makan gaji buta tuh personil” dan masih untung jika tidak keluar sumpah serapah dari mulut kita atas kondisi yg kita alami hari itu.

Menyimak dari rangkaian kondisi diatas, ternyata dalam keseharian kita hanya melihat pekerjaan orang lain disekeliling kita berdasarkan input-process-output saja meski kita merasakan adanya dampak(outcomes) dari hasil kerja(output) dari orang lain pada diri kita.

I-P-O

Pada saat kita merasakan hasil pekerjaan orang lain mempunyai pengaruh buruk(negative outcomes) pada pekerjaan kita, maka kita cenderung memberikan furnishment meski hanya dalam bentuk yang paling minimalis(he he he….sudah minimalis pakai paling pula), yaitu “sebuah gerutu…!!!”.

Tetapi sebaliknya apabila ada pekerjaan orang lain yang mempunyai pengaruh positif(positive outcomes) pada pekerjaan kita, tak pernah terlintas sedikitpun dibenak kita untuk mengakui apalagi mengucapkan terima kasih atas peran serta orang lain tersebut pada pekerjaan kita, kita sering merasa bahwa hasil kerja kita disebabkan oleh peran kita semata atau lebih ekstrim lagi hasil kerja kita disebabkan karena ke-piawai-an kita dalam bekerja.

Jika saja timbul sebuah kesadaran bahwa hasil kerja kita hari ini tidak terlepas dari kontribusi(outcomes) hasil kerja(output) orang lain, begitu pula kesadaran bahwa hasil kerja kita hari ini(output) akan memberi kontribusi(outcomes) pada hasil kerja orang lain.

Karena kita ditakdirkan terlahir sebagai manusia yang tidak pernah berniat mencelakai atau ingin dicelakai orang lain maka dalam bekerja atau berbuat sesuatu kita akan selalu bersungguh-sungguh karena menyadari hasil kerja kita(output) akan memiliki dampak(outcomes) pada hasil kerja orang lain dan apabila hal yang buruk terjadi maka mata-rantai keburukannya akan kita rasakan pula, tetapi sebaliknya jika hal yang baik terjadi maka kebaikan itu akan dirasakan pula oleh semua orang.

Jika kondisi ini tercipta maka akan terasa suasana yang harmonis, semua orang akan saling menghargai dan dari dalam sanubarinya akan terpancar rasa terima kasih meski tidak terucapkan sekalipun.

Kita dapat menjadikan diri kita bermanfaat bagi yang lain

Dari celoteh saya diatas, saya jadi teringat lirik lagu John Lennon:
Imagine all the people
Living life in peace…

You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one

Yakinlah apabila kita bekerja dengan niat memberikan kontribusi positif pada orang lain dan orang lain melakukan hal yang sama, maka kita secara individu akan menerima kontribusi yang positif itu pula.

2 thoughts on “Input-Process-Output and Outcomes.

  1. Luar Biasa Pak :)
    tapi mohon diberi sedikit penjelasan lagi (contoh) beda antara output dan outcome yang mana istilah ini sering tertukar.

    untuk sikap minimalnya memang rata-rata sikap minimal yang kita bisa ialah ‘gerutu’ tapi sebenarnya bisa lebih dari itu

    misalnya saja,
    jika kita tidak bisa bantu membersihkan maka (minimal) jangan mengotori
    jika kita tidak bisa memberi maka (minimal) jangan mencaci

    mungkin kalimat baris kedua ini yang sebenarnya bisa kita lakukan, yaitu tidak menggerutu. Sudah tidak bisa bantu, gerutu pula :)

    Ditunggu post-an berikutnya. Bagaimana pun tulisan ini begitu hidup dan menyentuh karena sesuatu yang sering dilihat, kita anggap biasa. Padahal mestinya kita terus terkesima setiap waktu? ya kan Pak? :)

    • menurut hemat saya yang namanya output itu merupakan hasil langsung dari sebuah pekerjaan, misalnya kita membuat sambel, nah sambel itu merupakan output dari kita, dan outcomesnya sebuah rasa makan yang lengkap karena diantara lauk pauknya terdapat sambel hasil pekerjaan kita(tentu saja hal ini berlaku untuk orang yang suka makan dengan sambel).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>