Sebuah pandangan untuk Hierarchy of Needs Theory

Salam hangat Pak Darmansyah,

dep_5323810-Hierarchy-of-Needs-Pyramid---Maslows-Theory-IllustratedTeori Hierarchy of Needs yang dicanangkan oleh Abraham Maslow lewat tesisnya yang berjudul “A Theory of Human Motivation” yang terkompilasi dalam Psychological Review pada tahun 1943 memang mendapat banyak sorotan perhatian dari kalangan manajemen di Amerika Serikat dan di bidang organizational behaviour. Tak kalah banyaknya riset-riset manajemen internasional yang berkembang dari teori Maslow ini untuk menjamah pengertian teori ini dari sudut pandang motivasi pegawai di seantero dunia ini (Mead, 1994).

Namun terlepas dari banyaknya riset internasional yang mendukung asumsi-asumsi mendasar yang menghirarki bahwa kebutuhan yang berada di level bawah (yang paling penting) harus tercapai dahulu sebelum mencapai kebutuhan level di atasnya (yang secara gradual menjadi “tidak terlalu” penting), perlu dipahami juga ekstensi dan ekstrapolasi dari teori Abraham Maslow ini terhadap perbedaan kultur-kultur masyarakat dunia. Sederhananya, kita pun sekiranya menyoroti apakah teori ini memang bisa diaplikasi secara universal terhadap kultur lain, secara partikular kultur Asia yang termasuk di dalamnya Indonesia.

Banyak peniliti yang berpendapat bahwa teori Hierarchy of Needs Maslow ini terlalu kebarat-baratan (too Western) dan perlulah untuk ditinjau secara kombinatif dengan perspektif Timur yang sangatlah kolektif (collective) (Luthans & Doh, 2012). Menurut Edwin C. Nevis lewat tesisnya yang berjudul Cultural Assumption and Productivity: The United States and China dalam Sloan Management Review tahun 1983, hirarki Maslow ini merefleksikan dan sangat berorientasikan kultur Barat dan berlandaskan serta memfokuskan kepada kebutuhan dari dalam individu-individu perseorangan (inner needs of individuals).

Menurut pendapat saya, tidak semua kultur berfungsi dan berperilaku seperti ini. Kultur Asia, misalnya, menekankan dan mengedepankan kebutuhan masyarakat (needs of society). Lagipula, menurut Nevis, ia berpendapat bahwa hirarki kebutuhan masyarakat Tiongkok selayaknya memiliki 4 level yang bertingkat-tingkat dari bawah ke level tertinggi: kebutuhan dan rasa saling memiliki (secara sosial), physiological, kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, dan kebutuhan aktualisasi diri dalam mengemban pelayanan terhadap masyarakat luas. Dari sini kita dapat melihat bahwa motivasi seseorang berkultur Asia berawal dari kebutuhan sosial yang berlandaskan masyarakat untuk pada akhirnya kembali lagi kepada masyarakat. Sebagai contoh, salah satu orang pengusaha e-commerce tersukses Tiongkok, Jack Ma sering mengutarakan dalam banyak wawancara bahwa “apabila Anda memiliki 1 juta dolar, itu memang uang Anda; disaat Anda memiliki 10 juta dolar, itulah disaat masalah mulai berdatangan dan Anda mulai khawatir akan inflasi dan hal lainnya. Waktu Anda memiliki 1 milyar dolar, itu adalah kepercayaan yang diberikan orang-orang. Itu bukan uang Anda.” Atau yang akhir-akhir ini sering terlihat dalam bentuk iklan sebelum kita menonton video pilihan kita di Youtube bermain, seorang tua membuka iklan itu dengan mengatakan “I think most of you wouldn’t know me. I am Manoj Bhargava, founder of 5-hour energy”. Jujur sebelum melihat video ini, saya belum pernah mendengar atau melihat namanya dimana pun. Padahal, setelah saya melakukan sedikit riset ternyata Manov Bhargava, seorang India di USA, oleh kebanyakan orang, pastilah sudah diperkiran , mengacu kepada teori Maslow, bahwa ia sudah mencapat tingkat aktualisasi diri, lewat bisnis dan pencapaiannya, dalam tahapan dimana potensinya sebagai seorang manusia sudahlah mencapai titik tertinggi. Namun, kehadirannya dalam iklan singkat tersebut membuktikan bahwa pencapaian terbesar dirinya ternyata adalah keterlibatannya secara langsung terhadap bantuan-bantuan sosial dan aksi filantrofisnya, seperti yang ia katakan juga dalam iklan tersebut “if you have wealth, it is a duty to help those who don’t”. Kira-kira, begitulah sedikit pendapat saya mengenai teori Maslow tersebut. Sekian dan terimakasih, Pak atas kesempatan untuk berkomentar di blog Bapak.

Mikail Karim, mahasiswa fakultas hukum dengan NIM 201541017

Referensi:
A. H. Maslow, “A Theory of Human Motivation,” Psychological Review, July 1943, pp. 390–396.

Edwin C. Nevis, “Cultural Assumption and Productivity: The 
United States and China,” Sloan Management Review, Spring 1983, pp. 17–29.

Hodgetts, Richard M., and Fred Luthans. International Management: Culture, Strategy, and Behavior. 8th ed. Boston: McGraw-Hill, 2006. 425-429. Print.

Richard Mead, International Management: Cross-Cultural Dimensions (Cambridge, MA: Blackwell, 1994), pp. 209–212.

Tulisan ini dicuplik dari komentar mahasiswa: nama : Dela Fariha Fuadi, 201466144  pada artikel Teori X dan Y pada blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>