Suara Hati.

Suara Hati.
(goresan tanganku dan dibaca dengan khidmat Oleh Capt. Harry P. pada saat Reuni Pilot 29 Curug)

Akhirnya tiba jualah saat yg bahagia.
Satu persatu berdatangan para anggota.
Ada yg datang seraya bersahaja.
Ada yang datang dengan langkah gempita.
Ada yang tersenyum menyebar tawa.
Ada yang tiba dengan membusung dada.
Ada yang tiba dengan mata merona.
Ada yang melangkah perlahan menahan sesak didada.

Semua berkumpul menjadi satu dan menyatu.
Memungut serpihan serpihan masa lalu.
Berceloteh betapa akunya aku dahulu.
Seakan hal itu baru saja berlalu.

Betapa Maha Pemurahnya Yang Maha Kuasa.
Memberi kita sebuah rasa bahagia.
Bahagia karena kita semua telah berjaya.
Jaya dari asalnya hanya sekedar penghuni asrama.

Ketika sebuah tanya bergema.
Berasal dari berapa bersaudarakah kau dalam keluarga.
Ada yang menjawab aku anak pertama dari 8 bersaudara.
Aku anak ke dua dari dua bersaudara.
Aku anak ke 4 dari 5 bersaudara.
Aku anak satu-satunya tanpa saudara.
Dstnya…..dstnya….

Tiba-tiba daun telinga ini panas membara.
Gendang telinga berdenging dilanda suara membahana.
Suara teguran keras menampar muka.
“Tidakkah kalian merasakan Rahmat Yang Maha Kuasa”.
“Yang Maha Kuasa menyatukan kalian lewat sebuah acara”.
“Mengumpulkan kalian untuk membangun sebuah rasa BERSAUDARA”.
Perlahan dan lembut suara itu sirna.

Aku terguguk dan terduduk menyesali betapa naifnya aku.
Aku menengadahkan kedua tanganku.
Bertekuk khidmat mempersembahkan Puji Syukurku.
Karena Tuhan telah meninggikan derajatku.

Kini dengan lantang aku bersuara.
Aku adalah anak kesekian dari lebih seratus saudara.
Ada saudaraku sang captain pembelah udara.
Ada saudaraku jendral yang bersahaja.
Ada saudaraku sang pengusaha yg tidak kikir meski kaya raya.
Ada saudaraku yang menjadi penguasa.
Ada saudaraku yg dipercaya mengelola sebuah bidang pada dunia usaha.
……….
………..
Dan itu semua bukan hanya untukku semata.
Tetapi milikmu jua, wahai saudara2ku semua.

Tidakkah kau bangga memiliki saudara seperti aku sebagai pengajar di perguruan tinggi swasta.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sang pembelah udara.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sebagai petinggi tentara.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara pengusaha.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sebagai pengelola.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara meski tak memiliki harta tapi berhati mulia.
Dan masih banyak saudara yang sama sama kita miliki.

Sejak saat bersejarah ini, mari kita sama sama membusungkan dada.
Bangga karena terpilih oleh Yang Maha Kuasa.
Untuk menjadi anak kesekian dari seratus lebih saudara..

13310563_1730766307202417_6551223945611658580_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>