Jangan Larut Didalamnya.

Jangan Larut Didalamnya


Bosan aku mendengar rintih menyayat kalbu.
Kesal aku melihat sedih mengharu biru.
Apakah hidup hanya sekedar berisikan itu.
Bukankah ada keindahan yang mengisi hidupmu.


Mari tatap dan tegakkan langkah kedepan.
Biar lalu tetap menjadi pijakan.
Agar sesat dan sesal tidak mengedepan.
Menjadikan suka sebagai sebuah temuan.


Bukankah sedih ‘kan berakhir dengan gembira.
Bukankah duka ‘kan berakhir dengan bahagia.
Asalkan kita dapat menemukan kuncinya.
“Janganlah larut didalamnya”.


Jangan biarkan dirimu terperangkap perasaan.
Engkau masih memiliki berjuta harapan.
Tegakkan dada tataplah kedepan.
Banyak hal indah menunggu kehadiran.

Goresan tangan untukmu Guru…..

Goresan tangan untukmu Guru…..

Sahabat….guratan Illahi menyatukan kita.
Bahu membahu mengejewantahkan cerdas bangsa.
Meski tatih menghambat ingsut kita.
Didera dukungan yang tak seberapa.
Tetapi tetap kita jalani jua.
Agar bangsa tak lagi hina.
Kata mereka kita pahlawan tanpa tanda jasa.
Moga kebajikan senantiasa menyerta.
Agar buahnya dinikmati anak cucu kita.

 

Istriku tercinta.

Istriku tercinta.

Aku suamimu yang sudah melewati usia setengah baya.
Disatu sisi masih merasa berjaya meski disisi berbeda sudah termakan usia.
Aku suamimu berada pada posisi yang berbahaya.
Jika tak pandai membawa dahaga.
Aku mulai merasa tak lagi semenarik masa muda.
Aku mulai memperbaiki tampak muka.
Agar tua hapus dari nyata.

Dan disisimu istriku……
Kau baktikan cinta dengan menata rumah tangga.
Kau hunjukkan kasih dengan membesarkan putra-putri kita.
Kau siapkan perhatian dengan hidangan menggugah selera.
Kau abaikan lelah dengan mengasihi anak putra-putri kita.

Tetapi pada sisiku…istriku…..
Aku butuh perhatian dan kasih mesra.
Yang dapat kurasa tanpa perantara.
Aku butuh belaian dari istriku tercinta.
Bukan perhatian pada lingkungan disekitar kita.
Agar usiaku tak terasa tua.

Diluar sana…………..
Bertabur perhatian bermuara pada harta.
Mengincar kelemahan iman didada.
Nampak segar dan nyata.
Meski kutahu jika kukecap akan terasa neraka.
Neraka untuk rumah tangga yg telah kita bina.

Oleh karena itu istriku………….
Bantulah aku agar tak menyentuh noda.
Tegarkan diri ini karena merasa.
Merasa memiliki kasih sayang dari istri tercinta.
Merasa memiliki belai yang mesra.
Merasa meski tua tapi masih berjaya.
Berjaya karena dukungan istri tercinta.
Yang dapat menyelamatkan bahtera rumah tangga kita.
Agar kelak dapat lega menikmati masa tua.
Masa menghabiskan waktu untuk dan hanya untuk kita berdua.
Masa yang penuh dengan rasa cinta.
Cinta dari istri pilihan hamba.

(Ter-inspirasi dari keinginan saudaraku Abdullah Elly pada saat Reuni Akbar Pilot-29 Curug, untuk memberikan dorongan bagi istri2 kita agar dapat menjaga keutuhan rumah tangga)..

20160317_120339

*Berbuka Puasa.*(Rev-Juni-2016).

*Berbuka Puasa.*.

(revisi Juni 2016)

Ketika kumandang menjadi tanda.
Meski tertatih dan berdalih.
Genap sudah coba dan goda.
Di hari dalam bulan penuh makna.

Diiring khidmatnya doa pembuka.
Didalam kehangatan tegukan penghilang dahaga.
Terlintas noda mengotori sukma.
Sebuah tanya bersemayam didada,
Makna atau sekedar rasa yg kuterima.

Karenanya Ya ALLAH……Yang Maha Kuasa.
Ijinkan hamba yg hina bersimpuh dihadapan paduka.
Memohon belas agar bukan hanya rasa yg hamba terima.
Tetapi segala yang berbuah makna,
Agar semakin tegar iman didada.

 

Wadah Berceloteh Ria

Mobile-Grup wadah berceloteh ria.

SAHABAT sekaligus SAUDARAKU.
Berbunga hati ini ketika tanda berkumpul tiba.
Toto saudara seperguruanku membawa berita suka cita.
Aku digelandang memasuki sebuah area.
Yang semula kuduga hanya untuk unjuk gigi semata.
Ternyata dugaku jauh dari nyata.

Aku terperangah melihat keakraban yang ada.
Sebuah kumpulan Hikmah dan Canda bercengkrama.
Meski karena keterbatasan tak dapat kuikuti semua.
Tapi saat senggang datang,
untaian BAHAGIA menjelma didada meski hanya baca sebagai penyulutnya.

Kuyakini apa yang kurasakan sama seperti rasa yang dialami Saudaraku semua.
SAHABAT sekaligus SAUDARAKU.
Mari galang rasa ini agar tetap membungkah didada.

13267905_1730769180535463_6329287092079562898_n

Sahabat.

Persahabatan.

Sahabat…….sekaligus ………saudaraku
Jika saja ada ruang waktu.
Tuk kembali kemasa lalu.
Kan kuralat semua perbuatanku.
Yang pernah menyakitkan hatimu.
Baik yang kusengaja maupun kekhilafanku.

Kesadaran ini datang, setelah kurasakan hangat kasih yang kau berikan.
Sahabat, meski klise terkesan mengedepan.
Kedua telapak tanganku, kurangkapkan.
Memohon ampun atas segala yang pernah menyakitkan.
Seraya berharap tak bertepuk sebelah tangan.

Sahabat…..sekaligus saudaraku
Untuk dapat menggambarkan arti dirimu dalam hidupku.
Meski seluruh kata yang pernah kudengar, kurangkai menjadi satu,
Takkan cukup memcerminkan sosok dirimu dalam hidup dan benakku.
Engkau……Sahabat……..sekaligus……saudaraku.

13310541_1730768267202221_2206020060130546318_n

Suara Hati.

Suara Hati.
(goresan tanganku dan dibaca dengan khidmat Oleh Capt. Harry P. pada saat Reuni Pilot 29 Curug)

Akhirnya tiba jualah saat yg bahagia.
Satu persatu berdatangan para anggota.
Ada yg datang seraya bersahaja.
Ada yang datang dengan langkah gempita.
Ada yang tersenyum menyebar tawa.
Ada yang tiba dengan membusung dada.
Ada yang tiba dengan mata merona.
Ada yang melangkah perlahan menahan sesak didada.

Semua berkumpul menjadi satu dan menyatu.
Memungut serpihan serpihan masa lalu.
Berceloteh betapa akunya aku dahulu.
Seakan hal itu baru saja berlalu.

Betapa Maha Pemurahnya Yang Maha Kuasa.
Memberi kita sebuah rasa bahagia.
Bahagia karena kita semua telah berjaya.
Jaya dari asalnya hanya sekedar penghuni asrama.

Ketika sebuah tanya bergema.
Berasal dari berapa bersaudarakah kau dalam keluarga.
Ada yang menjawab aku anak pertama dari 8 bersaudara.
Aku anak ke dua dari dua bersaudara.
Aku anak ke 4 dari 5 bersaudara.
Aku anak satu-satunya tanpa saudara.
Dstnya…..dstnya….

Tiba-tiba daun telinga ini panas membara.
Gendang telinga berdenging dilanda suara membahana.
Suara teguran keras menampar muka.
“Tidakkah kalian merasakan Rahmat Yang Maha Kuasa”.
“Yang Maha Kuasa menyatukan kalian lewat sebuah acara”.
“Mengumpulkan kalian untuk membangun sebuah rasa BERSAUDARA”.
Perlahan dan lembut suara itu sirna.

Aku terguguk dan terduduk menyesali betapa naifnya aku.
Aku menengadahkan kedua tanganku.
Bertekuk khidmat mempersembahkan Puji Syukurku.
Karena Tuhan telah meninggikan derajatku.

Kini dengan lantang aku bersuara.
Aku adalah anak kesekian dari lebih seratus saudara.
Ada saudaraku sang captain pembelah udara.
Ada saudaraku jendral yang bersahaja.
Ada saudaraku sang pengusaha yg tidak kikir meski kaya raya.
Ada saudaraku yang menjadi penguasa.
Ada saudaraku yg dipercaya mengelola sebuah bidang pada dunia usaha.
……….
………..
Dan itu semua bukan hanya untukku semata.
Tetapi milikmu jua, wahai saudara2ku semua.

Tidakkah kau bangga memiliki saudara seperti aku sebagai pengajar di perguruan tinggi swasta.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sang pembelah udara.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sebagai petinggi tentara.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara pengusaha.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara sebagai pengelola.
Tidakkah kau bangga memiliki saudara meski tak memiliki harta tapi berhati mulia.
Dan masih banyak saudara yang sama sama kita miliki.

Sejak saat bersejarah ini, mari kita sama sama membusungkan dada.
Bangga karena terpilih oleh Yang Maha Kuasa.
Untuk menjadi anak kesekian dari seratus lebih saudara..

13310563_1730766307202417_6551223945611658580_n

RASA

loveKetika rasa itu merasuk menggetarkan jiwa
Kucoba menahannya meski sesak didada
Dan ketika rasa itu bergolak menuntut muara
Kuatur kendali agar semua tetap terjaga

 

 

Day-03-Ingatan-Masa-LaluKupalingkan wajah ini dari nyata
Memandang jauh kebelakang masa
Kulepas ingin yang membungkah didada
Agar bahagiaku tak mengoyak bahagia yang ada

 

 

pemandangan7Kulihat langit membentang diangkasa
Kuamati lembah dan bukit raya
Indah rasanya dinikmati mata
Tersadar aku bahagia itu hanya sebatas rasa

 

pendamRasa memiliki dan dimiliki yang menjawab dahaga
Tanpa serakah menjajah jiwa
Biarlah rasa tetap terpendam didada
Karena rasa begitu berharga.

Jakarta, 11 Feb 2016; 12:50

Selamat datang Yaa Ramadhan

Tatkala kutengadahkan wajah ini
Biru Lazuardi ditingkah kerlip berkesinambungan
Terasa kecil dan semakin kerdil aku dihadapanmu

Tatkala kupalingkan wajah ini kebelakang
Terlihat dengan tegas dan keras untaian dosa yang lalu
Bergegas kututup wajah ini, malu aku jadinya…….

Kini disaat Bulan penuh rahmat datang mendekat
Terlihat untaian jalan menuju selamat
Tapi masih pantaskah aku………..?

Oleh karena itu Yaa Allah Yaa Rabbi
Ijinkanlah hambamu yang hina penuh noda dan dosa ini
Bersimpuh dan merunduk dihadapanMU
Untuk dapat melangkah dijalanMU, yaa Allah.

(Sabtu 02 November 2002 23:08)

Guru….

Guru….

Tanganmu menggamit menuntunku
Sikapmu menjadi tauladanku
Acuhmu memagariku
Segala sesuatuMu bermakna bagiku

Kau pahlawan tanpa tanda jasa
Itu kata masyarakat bersahaja
Tapi bagiku kau adalah segalanya
Kau bukakan hati ini
Kau beliakkan mata ini
Kau sinari benak ini
Kau beri aku bekal tuk berdiri

Dan…kau…….
Ahh Guru……
Tak dapat kugambarkan bagaimana sosokmu dimataku
Seandainya seluruh kata yang pernah kau ajarkan padaku
Kurangkai menjadi kalimat tuk menggambarkan dirimu
Maka kalimat itu belum penuh makna tuk menunjang sosokmu
Mungkin hanya simpuh berselimpuh takzim dihadapan batinmu

Akankah….?

Akankah….?

Kala Senandung pilu itu menggema
Hati ini meringis menahan pedih
Tapi…… yang kutahu……..
Aku punya cinta !!!!
Yang terkristalisasi menjadi :
1. Pilar-pilar kokoh
2. Nuansa bening penyejuk kalbu
3. Bakti yang tak berkesudahan
4. Bentang perlindungan yang tak kenal tepi
Akankah……….?????
Kuberharap dalam redup pelita pengobar makna

Adakah Cinta ???

Adakah Cinta ???

Hati ini menjerit, merintih, menggapai dan meronta agar lepas dari lara
Yang tak berkesudahan ini….
Nestapa akankah kau sirna, dengan siraman kasih
Bintang kehidupan, akankah kau bersinar
Atas hadirnya Asa yang Asih….

Kucoba mengayunkan langkah yang gontai dan terseok ini
‘Tuk menggapaimu
Kulontarkan tanya dalam senyap tanpa jawab,
Tapi tanya hanya tinggal tanya

Jauh dalam relung ini bergejolak sebuah rasa
Kuingin, kuberharap, kumendamba……
Putik kan bernyanyi riang
Embun kan berkilau
Dedaunan kan gemerisik bercengkrama
Menyatu, ‘tuk mengumpulkan dan membangun serpihan hati ini

 

Biar Cinta Berbicara

Biar Cinta Berbicara

Kala petaka datang mendera
Sentak terasa menyesakkan dada
Pilu sembilu didalam kalbu
Titik perih mengaliri isi kelopak

Gelegak amarah tanda tak kuasa
Menjemput nestapa diujung mahligai
Hilang sudah tali kendali
Hal tak patut mesti terjadi

Tapi jauh dalam relung
Sebuah Asih menggelegak
Mengalunkan untaian rasa
Cinta yang tak pernah sirna

Kelam enyahlah kau
Hitam memudarlah kau
Benci menjauhlah kau
Biar hanya cinta yang berbicara

Selamat datang Hari yang Fitri

Tatkala kutengadahkan wajah ini
Biru Lazuardi ditingkah kerlip berkesinambungan
Terasa kecil dan semakin kerdil aku dihadapanmu

Tatkala kupalingkan wajah ini kebelakang
Terlihat dengan tegas dan keras untaian dosa yang lalu
Bergegas kututup wajah ini, malu aku jadinya…….

Kini disaat Bulan penuh rahmat beringsut menjauh
Terlihat untaian jalan menuju selamat
Tapi masih pantaskah aku………..?

Oleh karena itu Yaa Allah Yaa Rabbi
Ijinkanlah hambamu yang hina penuh noda dan dosa ini
Bersimpuh dan merunduk dihadapanMU
Untuk dapat melangkah dijalanMU, yaa Allah.

Berbuka Puasa

Ketika kumandang menjadi tanda
Meski tertatih dan berdalih
Genap sudah coba dan goda
Di hari dalam bulan penuh makna

Didalam kehangatan tegukan
Diiring khikmadnya doa pembuka
Terlintas noda mengotori sukma
Sebuah tanya bersemayam didada
Makna atau sekedar rasa yang kuterima

Tak Tertahankan

Gallery

Terseok langkah ini kubawa menjauh Karena kutahu peruntukkanku bukan untukmu Damba cinta berpaling dari kita Meski liku telah terjalani bersama Jika puing itu tak kau bawa pulang Tuk menimbun tulus dambaanku Dan membuatku terpana nanar menggapai Teronggok tanpa harga Kupaksa … Continue reading

Berjuang dalam Kehidupan

Meski lelah kulepas ingsut kaki ini satu persatu bergontai
Ku tak mau terdiam nanar menggapai
Meski ku tahu lembah impian jauh dari jangkauan
Tapi mimpi tetap ku jadikan arahan

Hingga bentang air biru tak tembus pandang menghadang
Berbekal serpih-serpih pokok kayu yang tumbang
Kurangkai rakit penembus gelombang
Berharap kulabuhkan ingin dipulau penggalang

Terhenyak aku dalam kesendirian
Menyadari bekal asa yang semakin terkikis
Tetapi beban tetap bergelantungan
Seakan tak peduli ketiadaan

Sembilu sayatlah hati ini agar terkoyak semakin dalam
Hingga terasa perih yang tak berkesudahan
Yang dapat memicu daya juang yang hampir padam
Agar dapat kuselesaikan seluruh beban yang kusandang

 

 

Kemanakah….?????

Betapa pedihnya hati ketika orang kau cintai berbuat dusta
Haruskah kita tinggalkan semua kenangan indah
kembali berjalan seorang diri pada jalan lurus tak bertepi
Ataukah memang Yang Kuasa menghendaki

Haruskah…………Kehidupan yang memberi kita hidup terkubur dalam angkuh
Atau adakah nganga maaf membentang
Meski tak tampak sinar terang membayang
Tetapi gapainya tak sanggup terjulur

Meski rentang telah dijelujur
Kadang ampun tak lagi ampuh
Luluhkan nyeri yang mendalam
Meski korban akan berdebam
Tapi sadar jauh dari permukaan
Terseret dalam oleh kekecewaan
Ataukah kita memang tidak berperi

Hidup

Lapang rasanya dada ini
perlahan dan mengherankan
sebuah rasa berjalan surut
Jika bongkah itu meredup

Ada sekelumit asih yang tersisa
berupaya menggapai dunia nyata
tetapi batas telah terlampaui
menginjaknya jauh dalam lubang hitam

Melihat cakrawala membentang
ada kepak yang menguak
mencari mangsa dahaga cinta
akankah tercipta landas yang terdamba
Biarlah hidup menentukan kehidupan
asal terniat kebajikan semata

Manusiawikah

Kala selimut kegelapan menutup keterpurukan
Secercah sinar berkelip tak tergapai
Segenap daya kukerahkan
Tapi kerlip semakin menjauh
Mungkinkah………..

Kepak sayap dewa cinta mencoba menggapainya
Walau kungkungan kaidah ciptaan manusia semakin merekat
Tetapi bukankah cinta dialam ini
Tercipta dari manusia untuk manusia
Lalu……. manusiawikah kita…..?

Rentak kehidupan terus bergulir
Kepedulian terasa sebagai keterasingan
Sang pencipta……..
Bedahlah hati ini agar galau dapat terhalau.

(Jum’at 01 November 2002 22:34)

Gamang

Ketika rasa itu menjalar memasuki relung hati
Terasa kehangatan mencairkan kebekuan
Terasa hidup yang bermakna kehidupan
Dan aku terlena………….

Beringsut rasaku menggapai
Menemukan rasa dimiliki dan memiliki
Kuayunkan telapak ini
Agar tidak bertepuk sebelah tangan

Ketika kehangatan berubah warna
Rasa bersatu menjelma
Tak pernah ada sesal didada
Yang ada hanya bahagia

Kini disaat tuntutan muara mulai bersuara
Perlahan rasa itu kau ingsutkan
Agar tak tergapai
Oleh Ketidak berdayaan

Dosa siapa

Sebongkah rasa gamang berjalan dalam kehidupan
Meniti jalan tak bertepi
Menggapai rasa yang tak pernah ada
Ditengah hiruk pikuk celoteh tak bermakna

Bertanya pada diri sendiri
Siapakah aku
Mengapa perlu kehadiranku
Hendak kemanakah aku

Ternganga bibir ini tak dapat mengatup
Mendengar jawab yang tak dapat dicerna
Yang mengharuskanku menerima segalanya
Dengan ketidak berdayaan yang ada

Meski berjuta tanya bergelayut dalam jiwa
Jalan itu harus kutempuh jua
Atau kuharus sirna tanpa makna

Hanya jauh didalam dada ini
Ada alunan bernada duka
Haruskah aku yang menanggung segalanya

(November 15 2002 21:35)

Pengorbanan

Ketika sebuah tanya bergelora
Kucoba tuk merayap dalam gelap
Yang ada hanya sesal
Yang ada hanya kesal

Kucoba menggapai sebuah rasa
Rasa yang nyaris dimiliki semua insan
Rasa dimiliki dan memiliki
Tetapi hanya kehampaan yang membahana

Dalam himpitan rasa akhirnya kutemukan
Ternyata……
Tak ada gunanya kumencari sesuatu yang tak pasti
Karena aku menyadari
Bahwa :
Keberadaanku dalam pemenuhan kebutuhan yang lainnya
Bahwa :
Keberadaanku menghasilkan keberadaan yang lainnya
Bahwa :
Keberadaanku merupakan akhir dari suatu perjalanan
Dan yang pasti
Keberadaanku merupakan sebuah langkah lain untuk perjalanan lebih jauh lagi

(November 19 2002 19:11)

Yatim Piatu

Yatim Piatu

Ketika kulihat dan kudengar
Gelegar petir diterik mentari
Membungkam dan mengalihkan berjuta rasa
Menjadi rintih pilu penuh duka
Lolong tangis menyayat kalbu
Seakan hilang segala makna kehidupan
Sosok sosok tegar larut dalam kepedihan tak berkesudahan
Seakan hilang kepercayaan dan pegangan
Menatap nanar jasad terbujur kaku

Dan Ketika kupalingkan pandangan ini
Terlihat sepasang mata sebening kaca
Berkata ………………Tahukah dunia
Apa yang kurasa pada saat aku mengalaminya
Di Usiaku yang masih sangat belia ini

Akhirnya kupejamkan mata dan berdoa
Semoga masih ada insan yang membuka pintu hatinya baginya

(November 20 2002 24:00)