Tugas Pengganti UAS Sosiologi seksi 05, 06 dan 20 Semester Genap 2016-2017

Jawablah soal-soal dibawah ini dan kirimkan dalam bentuk MS-Word ke email :

tugassosiologi212@gmail.com

Kirim email dengan subyek :

NIM, NAMA, Seksi, Tgs-UAS

1. Apakah yang dimaksud dengan Kekuasaan.
2. Jelaskan dan berikan contoh Wewenang.
3. Apakah yang dimaksud dengan mobilitas sosial dan berikan contohnya.
4. Apakah LSM itu merupakan lembaga social menurut sosiologi, jelaskan jawaban saudara.
5. Apakah perubahan social itu dan sebutkan contoh factor internal serta eksternal yang mempengaruhinya.
6. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.
7. Apakah yang dimaksud dengan perilaku menyimpang dan berikan contohnya.
8. Jelaskan dan berikan contoh kebudayaan,
9. Apakah yang dimaksud dengan Masyarakat Madani(Civil Society).
10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perilaku kolektif dan berikan contohnya.

Paling Lambat Tgl 14 Juli 2017 Jam : 24:00 wib

===Selamat Bekerja===

Tugas Pertemuan 6 Seksi 13 dan 14

Berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan manusia menurut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow / Abraham Maslow.

Kirimkan jawaban saudara pada email tugasmotivasi@gmail.com dengan judul : NIM-NAMA-SEKSI-TUGAS-SOSIOLOGI-6,

contoh : 201599001-13-TUGAS-SOSIOLOGI-6

Batas akhir pengiriman jawaban Hari : Jumat, tgl : 07 April Jam : 00:00

ASAL MULA DAN PERKEMBANGAN SOSIOLOGI.

Asal Usul Sosiologi
Dari bukti peninggalan bersejarah, manusia prasejarah hidup secara berkelompok. Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon (makhluk sosial). Sejak dilahirkan manusia mengalami ketergantungan kepada manusia lain. Dalam ketergantungannya dia mengalami proses bersosialisasi. Manusia dalam kelompoknya mengembangkan cara hidup tertentu untuk mempertahankan hidupnya. Cara hidup ini disebut kebudayaan.Sociology-tree

  • Sosiologi merupakan salah satu rumpun dalam ilmu sosial.
  • Sosiologi lahir dari kekuatiran seorang ahli filsafat Perancis yang bernama Auguste Comte terhadap maraknya anarki (tidak dipatuhinya aturan) dalam masyarakat Perancis setelah pecahnya Revolusi Perancis.
  • Lahirnya sosiologi tercatat pada tahun 1842 melalui karya Auguste Comte yang berjudul Cours de Philosophie Positive.
  • Auguste Comte membagi Sosiologi menjadi dua bagian besar:
    • Statika Sosial (Social Static), yang mewakili stabilitas & kemantapan.
    • Dinamika Sosial (Social Dynamics) yang mewakili perubahan.

Tugas Pengganti UAS Sosiologi seksi 01, 02, 22 dan 23 Semester Genap 2014-1025.

assignment

  1. Apakah yang dimaksud dengan Kekuasaan (bobot nilai 10%)
  2. Jelaskan dan berikan contoh Wewenang. (bobot nilai 10%)
  3. Apakah yang dimaksud dengan mobilitas sosial dan berikan contohnya. (bobot nilai 10%)
  4. Apakah LSM itu merupakan lembaga social menurut sosiologi, jelaskan jawaban saudara. (bobot nilai 10%)
  5. Apakah perubahan social itu dan sebutkan contoh factor internal serta eksternal yang mempengaruhinya. (bobot nilai 10%)
  6. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia. (bobot nilai 10%)
  7. Apakah yang dimaksud dengan perilaku menyimpang dan berikan contohnya. (bobot nilai 10%)
  8. Jelaskan dan berikan contoh kebudayaan (bobot nilai 10%)
  9. Apakah yang dimaksud dengan Masyarakat Madani(Civil Society) (bobot nilai 10%)
  10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perilaku kolektif dan berikan contohnya. (bobot nilai 10%)

Baca secara seksama dan kirimkan jawaban anda dalam format MS-Word ke email:

sosiologitugas212@gmail.com

dan berikan reply pada blog ini dengan kalimat:

NIM, Nama, Seksi xx, telah mengerjakan dan mengirimkan jawaban pada email tsb diatas

oo0 Selamat Bekerja 0oo

DEFINISI SOSIOLOGI

SociologyT_300
AKAR KATA Sosiologi.

Socius = Kawan / Masyarakat.
Logos = Kata / Berbicara / Ilmu
Sosiologis = berbicara mengenai masyarakat.
Sosialisme = idiologi yang berpokok pada prinsip pemilikan umum.
Sosial pada kata Departemen Sosial menunjukan pada kegiatan di lapangan sosial.
Sosiologi = ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat.

DEFINISI SOSIOLOGI.
Menurut Pitirim Sorokin

  • Ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, contoh hukum dengan ekonomi.
  • Ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, contoh geografis (gejala sosial) dengan biologis (gejala non-sosial)

Menurut Roucek & Waren

  • Ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok

Menurut Emile Durkheim

  • Sosiologi ialah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara-cara bertindak & berperasaan, contohnya: kebiasaan, norma-norma, hukum.

Menurut Selo Soemardjan & Soelaeman Soemardi

  • Ilmu yang mempelajari struktur sosial & proses-proses sosial

Menurut Soerjono Soekanto

  • Ilmu sosial yang katagoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum.

Menurut Herbert Spencer

  • Sosiologi mempelajari tumbuh, bangun dan kewajiban masyarakat.

Menurut Max Weber

  • Sosiologi merupakan ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang tindakan-tindakan sosial

Menurut Durkheim

  • Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari lembaga-lembaga dalam masyarakat

SIFAT HAKIKAT SOSIOLOGI

Sifat dan Hakikat Sosiologi
Sociology-treeSifat dan Hakikat yang melekat pada Sosiologi adalah:

  1. Tujuannya untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat.
  2. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum dari interaksi antar manusia dan juga perihal sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat manusia.

Masyarakat dalam Sosiologi.

Pengertian Masyarakat dalam Sosiologi.

society

  • Orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. (Selo Soemardjan)
  • Setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. (Ralp Linton)

Unsur Masyarakat

  1. Manusia yang hidup bersama.
  2. Bercampur untuk waktu yang lama.
  3. Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
  4. Merupakan suatu sistem hidup bersama.

Komponen dasar masyarakat:

  1. Populasi.
  2. Kebudayaan.
  3. Hasil Kebudayaan.
  4. Organisasi Sosial.
  5. Lembaga – lembaga sosial & sistemnya

Pendorong hidup bermasyarakat =

  1. Hasrat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum.
  2. Hasrat untuk membela diri.
  3. Hasrat untuk mengadakan keturunan.

Hasrat Kuat Dalam Diri Manusia.

Dua Hasrat Kuat Dalam Diri Manusia:

burning-desire

  1. Keinginan / hasrat untuk bersama dengan manusia yang lain (aspek sosial)
  2. Keinginan / hasrat untuk menyatu dengan lingkungan alam.

Manusia harus beradaptasi dengan menggunakan akal, perasaan, serta kehendaknya (Sistem Adaptif)

“Masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dari manusia perorangan” (Plato, 429 – 347 SM, Filsuf Romawi)

“Basis Masyarakat adalah Moral.” (Aristoteles, 384 – 322 SM, Filsuf Yunani)

Karl Marx yakin, “Masyarakat di seluruh dunia hidup di atas konflik antara dua golongan, yaitu Burjuis dan Buruh.”

Hubungan Individu dan Masyarakat.

Hubungan Individu dan Masyarakat

human-relation

  • Hubungan Individu (subyektif) dan masyarakat (obyektif) saling menentukan yang satu tidak ada tanpa yang lain.
  • Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang obyektif melalui proses externalisasi, sebagai mana ia mempengaruhi proses internalisasi.
  • Hegel menyatakan, “Manusia adalah lawan atau musuh manusia yang lain.”
  • Manusia mempunyai naluri kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya —–Social Animal
  • Manusia adalah makhluk sosial ————— Zoon Politicon
  • Thomas Hobbes —–buku Leviathan (singa) —–Homo Homini Lupus (Manusia adalah serigala bagi manusia lain)

Obyek Sosiologi

Sociology Object

sosiologi-templateSosiologi meneliti dan mencari apa yg menjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum dari interaksi antar manusia dan juga perihal sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur masyarakat manusia.

Teori Motivasi

Motivation Theory

Motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan tertentu. Dorongan itu bisa saja berbentuk: antusiasme, harapan dan semangat. Semua yang kita lakukan setiap hari senantiasa dibayangi oleh adanya motivasi. Misalnya, seorang karyawan yang bekerja tentu saja memiliki motivasi bekerja, begitu pula seorang atlet memiliki motivasi bertanding, seorang pelajar dengan motivasi belajar, dan lain sebagainya.

• Dasar Pemikiran
Salah satu cara memahami hakekat manusia adalah dengan pendekatan yang lebih mengarah kepada teori tentang kepribadian manusia. Dewasa ini telah banyak hasil yang dicapai oleh para ahli psikologi dalam usaha untuk menyusun teori kepribadian . Pembahasan tentang kepribadian ini berkaitan erat dengan perilaku manusia yang salah satu determinannya adalah motivasi.
Berdasarkan penggolongan determinan perilaku manusia itulah para ahli psikologi mengemukakan teori-teorinya tentang motivasi. Di antara teori motivasi yang dikemukakan adalah teori aktualisasi diri yang pertama kali dikemukakan oleh Carl Rogers dan kemudian dikembangkan oleh Abraham H. Maslow. Abraham H. Maslow ini dianggap sebagai tokoh madzhab ketiga dari aliran psikologi yang melakukan penelitan dengan cara meneliti orang-orang yang sehat sebagai obyeknya.

• Teori Motivasi Maslow
Hakikat Manusia
Tentang hakekat manusia Maslow berpendapat bahwa manusia memiliki satu kesatuan jiwa dan raga yang bernilai baik, dan memiliki potensi-potensi. Yang dimaksud baik itu adalah yang mengakibatkan perkembangan kearah aktualisasi diri.
Kebutuhan Pokok Manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang akan selalu menjadi motivasi perilakunya, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Untuk dapat sampai pada tingkat aktualisasi diri semua kebutuhan-kebutuhan pokok manusia pada tingkat sebelumnya harus terpenuhi. Selain kebutuhan pokok tersebut yang disebut basic needs manusia juga memiliki metaneeds sebagai kebutuhan pertumbuhan seperti keadilan, keindahan, keteraturan, dan kesatuan.
Kebutuhan Pokok sebagai Unsur Motivasi
Teori Motivasi Maslow dibentuk atas dasar teori hirarki kebutuhan pokok. Dengan kata lain pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia berbuat sesuatu. Teori ini tidak sekedar bersifat homeostatis tetapi juga homeostatis psikologis. Bahkan pada tingkat puncak kebutuhan yang disusun Maslow mengarah kepada mistisisme.

Teori Hierarki Kebutuhan.

Hierarchy of Needs Theory

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow / Abraham Maslow.
• Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.

Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

Lima (5) kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :

1. Kebutuhan Fisiologis/Physiological Needs.
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.

2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan/Safety Needs.

Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.

3. Kebutuhan Sosial/ Social Needs.
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.

4. Kebutuhan Penghargaan/Esteem Needs.
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri/Self Actualisation.
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Sosialisasi

Socialization
socialization-with-related-tags-and-terms

Sosialisasi diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang terdapat dalam masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakatnya.

Lembaga Sosial

Social Institutions
Pengertian lembaga social

Menurut Hoarton dan Hunt, lembaga sosial (institution) bukanlah sebuah bangunan, bukan kumpulan dari sekelompok orang, dan bukan sebuah organisasi. Lembaga (institutions) adalah suatu system norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting atau secara formal, sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia. Dengan kata lain Lembaga adalah proses yang terstruktur (tersusun} untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.
Pendapat para tokoh tentang Difinisi Lembaga sosial :
1. Menurut Koentjaraningkrat : Pranata sosial adalah suatu system tatakelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas sosial untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.
2. menurut Leopold Von Weise dan Becker : Lembaga sosial adalah jaringan proses hubungan antar manusia dan antar kelompok yang berfungsi memelihara hubungan itu beserta pola-polanya yang sesuai dengan minat kepentingan individu dan kelompoknya.
3. Menurut Robert Mac Iver dan C.H. Page : Lembaga sosial adalah prosedur atau tatacara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
4. Menurut Soerjono Soekanto, Pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

Interaksi Sosial

Social Interaction

Pengertian Interaksi Sosial
Manusia dalam hidup bermasyarakat, akan saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Kebutuhan itulah yang dapat menimbulkan suatu proses interaksi sosial.

Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok” (p. 22). Pendapat lain dikemukakan oleh Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial” (p. 50).
“Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung” (Siagian, 2004, p. 216).
Berdasarkan definisi di atas maka, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok.

Macam – Macam Interaksi Sosial
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi menjadi tiga macam, yaitu (p. 23) :
1. Interaksi antara individu dan individu
Dalam hubungan ini bisa terjadi interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika jika hubungan yang terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
2. Interaksi antara individu dan kelompok
Interaksi ini pun dapat berlangsung secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok bermacam – macam sesuai situasi dan kondisinya.
3. Interaksi sosial antara kelompok dan kelompok
Interaksi sosial kelompok dan kelompok terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek.

Bentuk – Bentuk Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu (p. 49) :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok – kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur – unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur – unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari
kebudayaan itu sendiri.

2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk – bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang – terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur – unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.

Ciri – Ciri Interaksi Sosial
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri – ciri interaksi sosial, antara lain (p. 23) :
a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d. Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu

Syarat – Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dapat berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu (p. 26) :
a. Kontak sosial
Adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing – masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.
b. Komunikasi
Artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain.

Perilaku

Behavior

Kata perikelakuan dipakai oleh Weber untuk perbuatan-perbuatan yang bagi sipelaku mempunyai ARTI SUBYEKTIF. Mereka dimaksudkan! Pelaku hendak mencapai suatu TUJUAN, atau ia didorong oleh MOTIVASI. Perikelakuan menjadi SOSIAL menurut Weber terjadi hanya kalau dan sejauh mana arti maksud subyektif dari tingkahlaku membuat individu memikirkan dan menunjukan suatu keseragaman yang kurang lebih tetap. Pelaku individual mengarahkan kelakuannya kepada penetapan penetapan atau harapan harapan tertentu yang berupa kebiasaan umum atau dituntut dengan tegas atau bahkan dibekukan dengan undang undang.

Weber membuat klasifikasi mengenai perilaku sosial atau tindakan sosial menjadi 4 yaitu :
Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara cara dan tujuan. Contohnya Bekerja Keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup.
Kelakuan yang berorientasi kepada nilai. Berkaitan dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat, nilai disini seperti keindahan, kemerdekaan, persaudaraan, dll. misalnya ketika kita melihat warga suatu negara yang berasal dari berbagai kalangan berbaur bersama tanpa membeda-bedakan.
Kelakuan yang menerima orientasi dari perasaan atau emosi atau Afektif . contohnya seperti orang yang melampiaskan nafsu mereka.

Kelakuan Tradisional bisa dikatakan sebagai Tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional. Contohnya Berbagai macam upacara tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan kebudayaan leluhur.

Perilaku Menyimpang.

Deviant Behavior

Perilaku Menyimpang.
Pembicaraan tentang penegakan hukum sangat terkait dengan perilaku menyimpang, baik yang dilakukan oleh orang awam, pejabat public, maupun oleh aparat penegak hukum sendiri. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang perilaku menyimpang akan sangat membantu upaya penegakan hukum, khususnya dalam usaha yang bersifat preventif.

Yang menjadi masalah, disamping masalah kompleksitas mengenai perilaku menyimpang dan latar belakangnya, ada nuansa relativitas ketika menentukan mana perilaku yang menyimpang, mana yang bukan. Kompleksitas masalah perilaku menyimpang misalnya menyangkut medical concepts, legal concepts, dan moral issues (Schur, 1979:18-25). Sedangkan relativitas perilaku menyimpang antara lain karena adanya kemungkinan tinjauan dari berbagai aspek atau perspektif, seperti cross-cultural perspectives, sub-cultural variations, ecological context,variation over time, dan situational deviance (Schur, 1979: 74-96). Sementara itu, Goode mengemukakan bahwa relativitas perilaku menyimpang bisa disebabkan oleh factor audience, actor, dan situational (Goode, 1984: 14- 16).
Pengertian Perilaku Menyimpang.
Secara mendasar, paling tidak ada tiga perspektif untuk menentukan apakah perilaku menyimpang itu, yaitu absolutist, normative, dan reactive (Goode, 1984: 7).

Perspektif absolutist berpendapat bahwa kualitas atau karakteristik perilaku menyimpang bersifat instrinsik, terlepas dari bagaimana ia dinilai. Dengan kata lain, perilaku menyimpang ditentukan bukan dengan norma, kebiasaan, atau aturan-aturan sosial.

Perspektif normative berpendapat bahwa perilaku menyimpang bisa didefinisikan sebagai setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat (Cohen, 1992: 218).
Dengan demikian, sebuah tindakan dikatakan menyimpang atau tidak, ditentukan oleh batasan- batasan norma masyarakat atau budaya.
Perspektif reaktif berpandangan bahwa perilaku menyimpang dapat ditemukan dalam bagaimana secara aktual perilaku itu dinilai. Untuk dapat dikualifikasikan sebagai sebuah perilaku menyimpang, sebuah tindakan harus memenuhi syarat (1)diamati atau paling tidak didengar, dan (2) menyebabkan hukuman yang nyata bagi pelakunya. Kunci utamanya adalah concrete social disapproval toward specific action and actors.
Perspektif reactive memiliki beberapa kelemahan (Goode, 1984:9-10):
First: It ignore secret behaviour that would be reacted to as deviance, where it known to the community…
Second: It ignore secret behaviour that would be reacted to as deviance, even where the actor knows that it would be condemned by the community…
Third: It denies the possibility that there is any predictability in the reactive process…
Fourth: It ignores the reality of victimization.
Perilaku menyimpang bisa dilakukan secara individual atau kelompok. Perilaku mengemis yang dilakukan seseorang merupakan penyimpangan individual, tetapi kalau tindakan mengemis itu dilakukan hampir oleh warga satu kampung, maka tindakan itu termasuk tindakan menyimpang secara kelompok atau penyimpangan kelompok.

Pengendalian Sosial

Social Control

pengendalian sosial dapat diartikan sebagai suatu proses yang direncanakan atau yang tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, membimbing, bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku . Apabila pengendalian sosial dijalankan secara efektif, maka perilaku individu akan konsisten dengan tipe perilaku yang diharapkan.

Wewenang dan Kekuasaan.

Power and Authority
Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Ada dua pandangan yang saling berlawanan mengenai sumber wewenang, yaitu teori formal (atau sering disebut pandangan klasik )dan teori penerimaan.
Teori formal berpendapat bahwa wewenang ada karena seseorang di beri atau di limpahi atau diwarisi hal tersebut. Pandangan teori penerimaan bahwa wewenang seseorang timbul hanya bila hal itu di terima oleh kelompok atau individu kepada siapa wewenang tersebut di jalankan. Chester Barnard menyatakan: “ bila suatu komunikasi direktif diterima seseorang kepada siapa hal itu ditunjukan wewenang untuknya tercipta atau di tegaskan”.Barnard menyebut penerima wewenang dengan sebutan “ zone of indifference”, dan Herbert A . Simon menyebut dengan “ area of acceptance”.

Kekuasaan(power) sering di campur adukan dengan wewenang. Bila wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu, kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Kekuasaan posisi (position power) di dapat dari wewenang formal suatu organisasi. Kekuasaan pribadi (personal power) di dapatkan dari para pengikut dan di dasarkan atas seberapa besar para pengikut mengagumi dan respeck pada seorang pemimpin.

Mobilitas Sosial

Social Mobility
A. Pengertian

Kata mobilitas berasal dari bahasa Latin mobilis yang artinya mudah dipindahkan atau banyak gerak. Kata sosial yang melekat pada istilah mobilitas bermaksud menekankan bahwa istilah itu mengandung makna gerak dengan melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam masyarakat. Dengan demikian mobilitas sosial ialah suatu gerak perpindahan seseorang atau sekelompok warga dari status sosial yang satu ke status sosial yang lain. Mobilitas sosial bisa berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan (biasanya) termasuk pula segi penghasilan yang dapat dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok.
Mobilitas sosial dapat diartikan gerakan sosial. Gerakan sosial yang menggunakan nada protes, penuh emosi, serta dengan kekerasan.lebih tepat disebut gerakan sosial (social movement).
Tingkat mobilitas sosial pada masing-masing masyarakat berbeda-beda. Pada masyarakat yang bersistem kelas sosial terbuka maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung tinggi. Tetapi sebaliknya pada sistem kelas sosial tertutup – seperti masyarakat feodal atau masyarakat bersistem kasta – maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung sangat rendah dan sangat sulit diubah atau bahkan sama sekali tidak ada.

B. Jenis Mobilitas Sosial

 Mobilitas sosial vertikal ; perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.
Sesuai dengan arahnya dikenal dua jenis mobilitas vertikal, yakni :
1. Gerak sosial yang meningkat (social climbing), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi.
2. Gerak sosial yang menurun (social sinking), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial lain lebih rendah posisinya.

 Mobilitas sosial horizontal ; perpindahan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial yang satu ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Dalam mobilitas sosial yang horizontal tidak terjadi perubahan dalam derajat status seseorang ataupun objek sosial lainnya. Mobilitas sosial horizontal bisa terjadi secara sukarela, tetapi bisa pula terjadi karena terpaksa.

C. Saluran-saluran Mobilitas sosial vertikal (sirkulasi sosial)
a. Angkatan Bersenjata
b. Lembaga-lembaga pendidikan
c. Lembaga-lembaga keagamaan
d. Organisasi Politik
e. Organisasi Ekonomi

D. Determinan Mobilitas Sosial
Horton dan Hunt (1987) mencatat ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat mobilitas pada masyarakat modern, yakni :
1. Faktor struktrual ; yakni jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi seta kemudahan untuk memperolehnya. Contoh: ketidakseimbangan jumlah lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pelamar atau pencari kerja.
2. Faktor individu ; kualitas orang per orang, baik ditinjau dari segi tingkat pendidikannya, penampilannya, keterampilan pribadi, dan lain-lain-termasuk faktor kemujuran yang menentukan siapa yang akan berhasil mencapai kedudukan itu.

E. Konsekuensi Mobilitas Sosial
1. Konflik
Konflik ; suatu benturan antara berbagai nilai dan kepentingan tertentu.Benturan itu terjadi karena suatu masyarakat belum siap menerima perubahan yang dibawa oleh mobilitas sosial.

2. Penyesuaian
o perlakuan baru untuk masyarakat kelas sosial, kelompok sosial, atau generasi tertentu.
o Penerimaan individu atau sekelompok warga dalam kedudukannya yang baru
o Pergantian dominasi dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat.

Perubahan Sosial

Changing Society

Untuk Tugas Explorative Learning harap kirim ke email sosiologitugas212@gmail.com

Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan suatu gejala yang akan selalu ada dalam masyarakat, karena masyarakat selalu berubah dalam aspek terkecil sekalipun. Perubahan sosial maupun perubahan budaya sebenarnya dua konsep yang berbeda tetapi saling berkaitan satu sama lain, di mana perubahan sosial mengacu pada perubahan struktur sosial dan hubungan sosial di masyarakat sedangkan perubahan budaya mengacu pada perubahan segi budaya di masyarakat. Tetapi perubahan pada hubungan sosial akan menimbulkan pula perubahan pada aspek nilai dan norma yang merupakan bagian dari perubahan budaya.
Terdapat berbagai teori yang dapat menjelaskan fenomena perubahan sosial di masyarakat. Tetapi semua teori itu sebenarnya saling mengisi satu sama lain, merupakan perbaikan ataupun juga memberikan sumbangan yang berarti dalam memahami fenomena perubahan sosial.
Perubahan sosial dapat terjadi karena sebab internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan permasalahan yang timbul dalam diri masyarakat, sedangkan faktor eksternal mengacu pada sumber perubahan yang berasal dari luar masyarakat.

 

 

 

 

 Proses Perubahan Sosial
yang memicu terjadinya perubahan dan sebaliknya perubahan sosial dapat juga terhambat kejadiannya selagi ada faktor yang menghambat perkembangannya. Faktor pendorong perubahan sosial meliputi kontak dengan kebudayaan lain, sistem masyarakat yang terbuka, penduduk yang heterogen serta masyarakat yang berorientasi ke masa depan. Faktor penghambat antara lain sistem masyarakat yang tertutup, vested interest, prasangka terhadap hal yang baru serta adat yang berlaku.
Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan dalam perubahan cepat dan lambat, perubahan kecil dan besar serta perubahan direncanakan dan tidak direncanakan.
Tidak ada satu perubahan yang tidak meninggalkan dampak pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan tersebut. Bahkan suatu penemuan teknologi baru dapat mempengaruhi unsur-unsur budaya lainnya. Dampak dari perubahan sosial antara lain meliputi disorganisasi dan reorganisasi sosial, teknologi serta cultural lag.

Perilaku Manusia

Human Behavior

Perilaku Manusia.
Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi dan atau genetika.

Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam Sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar. Perilaku tidak boleh disalah-artikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain. Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai control sosial Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penata-laksanaan yang holistik dan komprehensif.
Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia.
# Genetika
# Sikap – adalah suatu ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu.
# Norma sosial – adalah pengaruh tekanan sosial .
# Kontrol perilaku pribadi – adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.
Ruang Lingkup.
Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan, membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni: kognitif, afektif dan psikomotor. . Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku yang diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkat:
• Pengetahuan(knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya.
• Sikap(attitude)
Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan factor pendapat dan emosi yang bersangkutan.

• Tindakan atau praktik (practice)
Tindakan ini merujuk pada perilaku yang diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.
Selain itu, Skinner juga memaparkan definisi perilaku sebagai berikut perilaku merupakan hasil hubungan antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Ia membedakan adanya dua bentuk tanggapan, yakni:
• Respondent response atau reflexive response, ialah tanggapan yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu. Rangsangan yang semacam ini disebut eliciting stimuli karena menimbulkan tanggapan yang relatif tetap.
• Operant response atau instrumental response, adalah tanggapan yang timbul dan berkembangnya sebagai akibat oleh rangsangan tertentu, yang disebut reinforcing stimuli atau reinforcer. Rangsangan tersebut dapat memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh sebab itu, rangsangan yang demikian itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan.

Kebudayaan dalam perspektif Teori Sosial.

Kebudayaan
Kebudayaan dalam perspektif Teori Sosial.
Pengertian.

Istilah ‘kebudayaan’ yang penggunaannya sedemikian longgar, serta pengertiannya pun sedemikian berganda (ambiguous). Mulai untuk cakupan pengertian yang sempit hingga cakupan yang sangat luar biasa luas. Luas cakupan itu tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, namun juga dalam wacana ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan sosial. Kata ‘kebudayaan’ berasal dari bahasa sanksekerta Buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi yang berarti akal atau budi. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkenaan dengan budi atau akal. Kata kebudayaan sendiri di dalam wacana ilmu pengetahuan di Indonesia merupakan upaya mencari padanan kata culture dalam bahasa Inggris. Sedangkan ‘culture’ adalah berasal dari bahasa Latin yaitu ‘colere’ yang berarti bercocok tanam. ‘Culture‘ diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah alam. Hingga kinipun kata ‘culture’ tetap juga digunakan dalam dunia pertanian, misalnya ‘agriculture’ untuk menyebut ilmu-ilmu pertanian, ‘monoculture’ untuk menyebut pertanian yang terdiri dari satu jenis tanaman.
Penggunaan kata ‘culture’ yang semula berada di dunia pertanian itu lantas disublimasikan sehingga merambah ke dalam wilayah pengertian yang jauh lebih luas. Kenapa Hal itu bisa terjadi?. Tampaknya terkait dengan asal-mulanya perkembangan kebudayaan itu sendiri yang diduga pertama-tama berakar dari dunia pertanian. Realitas itu bisa dijelaskan dengan mengacu kepada teori sejarah ‘challenge and response’ dari Arnold Toynbee. Tantangan pertama yang menuntut respon manusia, yang memaksa manusia harus menggerakkan seluruh akal budinya adalah keharusan untuk mempertahankan hidup. Terutama harus makan. Manusia merespon tantangan itu dengan memuat ide, nilai, norma-norma dan peralatan-peralatan yang berkaitan dengan pertanian. Karena pertanianlah sebagai sumber mata pencaharian manusia. Jadi secara hipotetik, dapat dikatakan bahwa pertanian adalah awal manusia berbudaya.
Sebagai obyek studi, semula antropologilah yang dipandang sebagai ‘pemilik’ wilayah studi kebudayaan. Namun pada perkembangan lebih lanjut, antropologi tampaknya tidak mungkin memonopoli bidang ini, sebab pada kenyatannya wilayah studi ini juga berhimpitan dengan kawasan studi disiplin ilmu yang lain. Sosiologi misalnya. Hal itu bisa dimaklumi lantaran manusia adalah ‘obyek materia’ dari semua disiplin ilmu sosial. Sekalipun sosiologi memusatkan perhatian terhadap masyarakat, namun disadari bahwa masyarakat itu menjadi ada lantaran adanya kebudayaan. Keduanya bukan hanya berkoeksistensi namun juga berintegrasi. Masyarakat memproduksi kebudayaan sekaligus sebagai pengguna kebudayaan itu untuk bereksistensi. Itulah sebabnya, dalam studi sosiologi samasekali tidak mungkin mengabaikan aspek kebudayaan. Pandangan semacam ini setidaknya dikemukakan oleh para penganut determinisme kebudayaan seperti antropolog Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski ketika menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan keberadaannya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu.
Definisi klasik mengenai kebudayaan yang hingga kini menjadi sumber rujukan adalah dikemukakan oleh E.B. Tylor seorang antropolog terkemuka, dalam bukunya Primitive Culture, yang terbit tahun 1924:2 “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat” Dalam perpektif sosiologi, kebudayaan sebagaimana dikemukakan oleh Alvin L. Bertrand, adalah segala pandangan hidup yang dipelajari dan diperoleh oleh anggota-anggota suatu masyarakat.

Termasuk di dalam kebudayaan adalah: segala bentuk bangunan, peralatan, dan bentuk-bentuk pisik yang lain; di samping. teknik-teknik, lembaga masyarakat, sikap, keyakinan, motivasi serta sistem nilai yang diberlakukan pada kelompok.

Definisi tersebut mewakili pandangan yang melihat kebudayaan sebagai pemilik wilayah cakupan yang amat luas sekaligus memandang kebudayaan sebagai system besar, fungsional dan menjadi penentu terhadap seluruh aspek kehidupan sosial. Di sini, kebudayaan mempunyai peluang besar untuk lebih bersifat massif. Kebudayaan adalah tercermin dalam realitas apa adanya di masyarakat. Sehingga kebudayaan adalah makna, nilai, adat, ide dan simbol yang relatif. Sedang kebudayaan dalam pengertian yang sempit, adalah ia memiliki kandungan spiritual dan intelektual yang tinggi. Karena itu ia menjadi elitis, adi luhung, berstandar tertinggi. Ia lebih merupakan suatu yang seharusnya. Kebudayaan dalam pengertian luas lebih mewakili pandangan bahwa kebudayaan itu adalah kenyataan obyektif. Sehingga kenyataan budaya itu bisa ditemukan di dalam institusi-institusi dan tradisi-tradisi. Sedang yang melihat kebudayaan dalam arti sempit mewakili pandangan bahwa bagaimanapun kebudayaan adalah merupakan kenyataan subyektif. Ia adalah produk dari tafsiran pribadi-pribadi. Bertrand lebih jauh mencoba memilah antara masyarakat dengan kebudayaan. Ia melukiskan bahwa masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang terorganisasi secara mantap untuk memelihara keadaan yang diperlukan untuk hidup bersama secara harmonis. Suatu masyarakat bisa berfungsi lantaran anggota-anggotanya menyepakati aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan dengan segala derivatnya inilah dalam pengetian yang lebih umum disebut kebudayaan suatu kelompok masyarakat.

Dengan demikian suatu kebudayaan tidak bisa eksis tanpa suatu masyarakat, begitu juga sebaliknya. Namun bagaimanapun, secara teoritis, evolusi budaya dapat dipelajari secara tersendiri (dalam antropologi) begitu pula perkembangan suatu masyarakat (dalam sosiologi).

BENTUK-BENTUK KEBUDAYAAN.
Sesungguhnya banyak cara untuk mengklasifikasikan kebudayaan. Di kalangan sosiolog umumnya sepakat bahwa kandungan kebudayaan pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua komponen yaitu material culture dan nonmaterial culture. Untuk istilah yang pertama tampaknya semuanya sepakat, sedangkan untuk yang kedua, ada pula yang menyebut immaterial culture. Bertrand memberi pengertian ‘material culture’, sebagai: “… a culture includes those things Which men have created and use which have a tangible forms” (jenis kebudayaan dimana orang telah menciptakan dan menggunakan ciptaannya itu untuk memiliki bentuk yang berwujud). Sedangkan ‘nonmaterial culture’ sebagai: “all those creations of man with he uses to explain and guide his actions, but with are not found except in his mind” (segala buatan manusia yang ia gunakan untuk menyatakan dan membimbing tindakannya, tetapi buatannya itu tidak bisa didapati kecuali di dalam pikirannya saja.

Adapun Selo Soemardjan, sosiolog paling terkemuka di Indonesia, merumuskan kebudayaan sebagai: “semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.” Karya menghasilkan ‘material culture’, sedangkan rasa dan cipta membuahkan ‘immaterial culture”. Rasa itu sendiri menghasilkan segala kaedah dan nilai-nilai kemasyarakatan dalam arti yang luas; sedangkan cipta menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan. Bertitik tolak dari pembahasan singkat tersebut, patut dicurigai bahwa didalam kebudayaan terdapat adanya oposisi biner (binary oposition) sebagaimana pernah dituduhkan oleh antropolog strukturalis Levi-Strauss.

Jadi didalam kebudayaan itu ada unsur kontradiksi, yang menciptakan ketegangan-ketegangan kreatif. Dua ketegangan itu memiliki konsekuensi bahwa kebudayaan itu tidak pernah mandeg. Selalu melakukan rekonstruksi diri ataupun mendekonstruksi diri. Setidaknya ada lima oposisi biner didalam diri kebudayaan, yaitu: budaya material versus budaya immaterial, idea budaya versus realitas budaya, budaya seharusnya versus budaya senyatanya, budaya tinggi versus budaya rendahan, budaya elite versus budaya massa.

KARL MARX DAN MAX WEBER TENTANG DASAR KEBUDAYAAN.
Perdebatan dalam masalah yang paling fundamental mengenai kebudayaan berkembang dari Karl Marx dan Max Weber. Bagi Marx yang berpihak kepada faham materialistik dan strukturalistik, ide-ide kebudayaan dipandang sebagai produk dari hubungan-hubungan ekonomi. Sementara itu bagi Weber yang lebih berpihak pada faham konstruksianis melihat sebaliknya. Bahwa struktur ekonomi itu tidak lebih dari konsekuensi saja dari kebudayaan. Bagi Weber, sistem kebudayaan adalah otonom. Ia berevolusi sendiri tanpa terpengaruh oleh yang lain. Sebaliknya dalam pandangan Marx ide kebudayaan adalah didikte oleh keadaan materi tertentu dalam hal ini struktur ekonomi.
Secara sederhana, dan simplistis dua perbedaan itu bisa digambarkan sebagai berikut: bagi Marx, setelah di depannya ada kayu dan bahan-bahan lainnya ialah yang membuat munculnya ide membuat kursi. Jadi karena ada kayu maka kemudian muncul ide membikin kursi. Jika tidak ada kayu, ‘pasti’ tidak akan pernah muncul ide membuat kursi itu. Sedangkan bagi Weber, bermula ada ide membuat kursi, baru kemudian mencari-cari bahan untuk menuangkan ide tersebut. ‘Kebetulan’ di sana ada kayu. Maka kayu itu menjadi bermakna karena ada ide membuat kursi. Jika tidak ada ide itu, kayu akan tetap kayu, tidak akan pernah naik derajatnya menjadi kursi.
Dari dua perbedaan besar tersebut kemudian berkembang dua arus pemikiran yang disamping mendukung juga melakukan kritik dan merevisi. Dari Marx, muncul faham neomarxis antara lain Gramsci dan Lukacs. Sedangkan dari Weber muncul tokoh-tokoh konstruksionis kontemporer yaitu Habermas, Blias, dan Bourdieu.

 

GAGASAN DASAR CIVIL SOCIETY.

Civil Society

Latar Historis Civil Society.
Konsep masyarakat madani di Indonesia dan merupakan istilah temuan kontemporer sebagai terjemahan civil society. Oleh karena itu kajian masyarakat madani tidak bisa dipisahkan dari konsep civil society yang berkembang di barat. Asrofi S. Karni dalam hal ini mengakumulasikan civil society kedalam 5 model pemaknaan dengan konteks historis tempat pemikiran itu siterapkan.
Pertama, civil society dipahami sebagai sistem kenegaraan. Pemahaman demikian dikembangkan oleh Aristoteles (348-322 SM), Marcus Tillius Cicero (106-43 SM), Thomas Hobbes (1588-1679 SM) dan John Locke (1632-1704).
Kedua, civil society sebagai visi etis dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan kebalikan dari masyarakat primitif/ barbar. Visi etis ini untuk memelihara tanggungjawab sosial yang terilhami oleh sentimen moral antar masyarakat secara alamiah. Konsep ini dikembangkan Adam Ferguson (1767) pada paruh kedua abad ke-18.
Ketiga, civil society dimaknai sebagai antitesis negara dan atau sebagai alat kotrol negara. Pemahaman ini dikembangkan oleh Thomas Paine (1792).

Keempat, civil society sebagai elemen ideologis kelas dominan yang dikembangkan oleh Hegel, Marx dan Gramsci.
Kelima, civil society dimaknai sebagai entitas penyeimbang kekuatan negara yang bersifat otonom dan memiliki kapasitas politik yang tinggi untuk menahan kecenderungan intervensi negara, bahkan menjadi sumber legitimasi negara dan mampu melahirkan kekuatan kritis reflektis (reflective force) untuk mengurangi derajat konflik dalam masyarakat sebagai akibat reformasi sosial. Model ini dikembangkan oleh Alexis de’ Toqueville.

Hakekat Pemberdayaan Masyarakat dan Konsep Civil Society.

Civil Society
Hakekat Pemberdayaan Masyarakat.

Hakekat pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan citra negara yang demokratis, yang unsur-unsurnya antara lain:
1.    adanya kemauan politik dari negara (political will state)
2.    adanya komitmen yang kuat dari masyarakat politik (political society)
3.    adanya civil society yang kuat, mandiri dan beradab.

Konsep Civil Society.
Pertamakali Konsep Civil Society, menurut para pakar ilmu-ilmu sosial, diperkenalkan oleh Adam Ferguson seorang filsuf Skotlandia dengan bukunya yang dia tulis An Essay on the History of Civil society (1773). Namun yang memulai melengkapi analisisnya pada kelompok-kelompok masyarakat yang mengantarkan kepentingan rakyat kepada para pengambil kebijakan baru pada abad ke–20 yakni Alexis de Tocquaville dengan bukunya Democracy in America (1969). “Bapak” civil society Indonesia – AS Hikam yang menulis desertasinya dengan judul: “Negara, Politik Masyarakat dan Madani, dalam Pergerakan Sosialnya dibawah Orde Baru” Pada tahun 1995 dalam mendevinisikan civil society juga merujuk pada pemikiran Tocquaville. Yakni  wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara lain: kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self-generating), dan keswadayaan (self-supporting), kemandirian tinggi “berhadapan” dengan negara, dan keterikatan tinggi dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti warganya (1996).

Fungsi civil society dalam hubungannya dengan negara ekstrimnya ada dua madzhab besar yang berbeda. Yang satu sebagai komplementer negara, yang satunya berposisi diametral dengan negara atau sebagai tandingan negara (counterbalancing the state/ countervailing forces).  Hikam menambahkan fungsi subtitutor yang lebih dekat dengan fungsi komplementer yakni kalangan civil society melakukan serangkaian aktivitas yang belum atau tidak dilakukan negara dalam kaitannya sebagai institusi yang melayani kepentingan masyarakat luas. Dalam ranah kiprahnya, prototipe civil society juga disebut-sebut berada di dua ranah yang berbeda yakni di ranah budaya (horisontal) yang lebih menekankan pada keberadaban (civility) dan persaudaraan (fraternity) dan ranah politik (vertikal) yang lebih menekankan pada kekuatan tandingan (counter of hegemony).

Trend terahir sebagaimana pertemuan akbar para pegiat anti globalisasi dunia yang melibatkan lebih dari 100 ribu pegiat dari seluruh dunia di India, tampak meningkat dengan tajam suatu kesadaran baru bersolidaritas bersama untuk membangun global society melawan state hegemony yang berwatak kapitalistik. Cara pandang yang lebih realistis tentunya semestinya diarahkan pada terwujudnya keberdayaan rakyat, terpenuhinya kebutuhan strategis dan pragmatis rakyat, terwujudnya hak akses dan kontrol rakyat terhadap sumberdaya yang ada melalui berbagai ranah, cara  dan fungsi baik itu fungsi komplementer, subtitutor, atau bahkan diametral sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

Mengenai keterlibatan civil society dalam “pembangunan”ada salah satu thesis yang sedang marak diagendakan oleh kalangan pegiat pemberdayaan civil society adalah membangun strategi penguatan resistensi bangsa dengan meng-sinergikan seluruh sektor yang ada baik itu sektor state, private, dan public. Hal ini ditujukan untuk mewujudkan good governance, good coorporate, dan good civil society. Terlebih pada momentum trend desentralisasi yang terus bergulir ini. Mutlak diperlukan adalah semangat kebersamaan dari seluruh sektor untuk membangun dan mengembangkan agenda bersama dalam rangka perwujudan Local good governance, Local good coorporate, dan Local good civil society.

Pengertian dasar Perilaku Kolektif.

Perilaku Kolektif

Pengertian dasar Perilaku Kolektif.
Masyarakat secara umum dalam berperilaku cenderung berpedoman pada institusi yang ada pada masyarakat dan atau dipengaruhi oleh institusi yang ada pada masyarakat. Institusi Ekonomi mempengaruhi perilaku di pasar, institusi agama mempengaruhi perilaku ditempat ibadah, institusi politik menjadi acuan perilaku di forum atau mimbar organisasi politik. Meskipun demikian, terkadang, beberapa warga masyarakat secara berkelompok / berkerumun berperilaku yang tidak berpedoman pada institusi yang ada.
Dalam kenyataannya kadangkala kita melihat sejumlah warga masyarakat secara berkelompok menampilkan perilaku yang tidak berpedoman pada institusi yang ada, contoh: di tahun 1992, sejumlah besar umat Hindu di kota Ayodhya, India, mendatangi mesjid yang telah berusia beberapa abad dan beramai-ramai menghancurkan mesjid tersebut, sehingga mengakibatkan penganut agama Islam di beberapa kota lainnya di India melakukan tindakan balasan berupa pengrusakan dan penghancuran tempat ibadah agama Hindu. Perilaku yang tidak berpedoman pada institusi seperti diatas, dalam sosiologi disebut sebagai Perilaku Kolektif (collective behavior). Dari beberapa definisi (Horton and Hunt, 1984; Kornblum, 1988; Light, Keller and Calhoun, 1989) dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa perilaku kolektif merupakan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sejumlah orang, tidak bersifat rutin dan merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.

Kepribadian.

Kepribadian

Teori Psikologi tentang Manusia.
PsikoAnalisis(Homo Valens/Psikodinamika.(Sigmun Freud).
manusia-purbaYaitu teori yang meng-analisis manusia berdasarkan perkembangan kepribadian atau proses sosialisasi serta mengidentifikasi agresi kebudayaan dan perilaku manusia sebagai mahluk yang digerakkan oleh keinginan-keinginan yang terpendam.

personalityTujuannya : Untuk meng-analisis manusia berdasarkan perkembangan kepribadian atau proses sosialisasi serta mengidentifikasi agresi kebudayaan dan perilaku manusia.
WWS-EgoKepribadian manusia merupakan totalitas interaksi antara Id, Ego dan Super-Ego.superego-ego-id
Menurut Allport:

keinginanKepribadian adalah : Organisasi dinamis dari system Psikofisik dalam individu yang turu menetukan cara-caranya yang Unik/Khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.Pentingnya kemampuan adaptasi diri dengan lingkungan
Menurut Koentjaraningrat:
Kepribadian adalah: Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah-laku atau tindakan dari tiap individu manusia.
identityKepribadian berarti: Ciri-ciri, watak sesosok individu yang konsisten yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus.

Budi, Pekerti dan Akal

Budi, Pekerti dan Akal

anak-muslim_pikirkan2Akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah  perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa fungsi akal adalah untuk berfikir.  Kemampuan berfikir manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa yang telah diketahui sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah dan akhirnya membentuk tingkah laku.

Disorganized Communication - People Speaking at OnceBudi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin manusia, panduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu.

Jadi jelas bahwa fungsi akal dan budi manusia adalah menunjukkan martabat manusia dan kemanusiaan sebagai pemegang amanah makhluk tertinggi di alam raya ini.

good-behaviourPekerti adalah apa yang terlihat pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behavior. Kata budi pekerti dalam kamus Bahasa Indonesia adalah tingkah laku, perangai, akhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana dan manusiawi. Di dalam perkataan itu tercermin sifat, watak seseorang dalam perbuatan sehari-hari. Budi pekerti sendiri mengandung  pengertian yang positif. Namun penggunaan atau pelaksanaannya yang mungkin negatif.

budi-pekerti

Tugas Interaksi Sosial

Tugas Interaksi Sosial
Berikan contoh Interaksi sosial untuk:

  • Bentuk Interaksi social yang bersifat asosiatif:
  • Kerjsama
  • Akomodasi
  • Asimilasi
  • Akulturasi
  • Bentuk Interaksi Sosial yang bersifat Disosiatif:
  • Persaingan
  • Kontravensi
  • Konflik

Tugas UAS Semester Genap 2013 Sosiologi

Tugas Pengganti UAS

  1. Apakah yang dimaksud dengan Kekuasaan.
  2. Jelaskan dan berikan contoh Wewenang.
  3. Apakah yang dimaksud dengan mobilitas sosial dan berikan contohnya.
  4. Apakah LSM itu merupakan lembaga social menurut sosiologi, jelaskan jawaban saudara.
  5. Apakah perubahan social itu dan sebutkan contoh factor internal serta eksternal yang mempengaruhinya.
  6. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.
  7. Apakah yang dimaksud dengan perilaku menyimpang dan berikan contohnya.
  8. Jelaskan dan berikan contoh kebudayaan.
  9. Apakah yang dimaksud dengan Masyarakat Madani(Civil Society).
  10. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perilaku kolektif dan berikan contohnya.